حمدا لله صلاة وسلاما لرسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه، ولا حول ولا قوة إلا بالله، أما بعد

Para ulama berbeda pendapat tentang mengusap telinga, apakah sunnah atau wajib? Apakah airnya harus diperbaharui atau tidak?

Hukum Mengusap Telinga

Pendapat pertama, Imam Ahmad dan Imam Malik di dalam riwayat, mereka berpendapat bahwa mengusap telinga hukumnya adalah wajib.

Berdasarkan dalil hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu,

أن النبي مسح برأسه وأذنيه ظاهرهما وباطنهما

“Bahwasanya Nabi mengusap kepalanya dan kedua telinganya luar maupun dalamnya.”

Mereka berpendapat hadits ini penjelas terhadap keumuman dari firman Allah:

..وامسحوا برؤوسكم

Dan usaplah kepalamu… (QS. Al-Maidah:6)

Sehingga dipahami hukum mengusap telinga adalah wajib.

Pendapat kedua, Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Syafi’i berpendapat bahwa mengusap telinga hukumnya sunnah.

Berdasarkan dalil hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu,

أن النبي مسح برأسه وأذنيه ظاهرهما وباطنهما

“Bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kepalanya dan kedua telinganya luar maupun dalamnya.”

Mereka berpendapat hadits ini tambahan terhadap apa yang ada dalam Al-Qur’an tentang mengusap kepala, maka hukumnya adalah sunnah jika dirasakan adanya kontradiksi antara hadits dan ayat.

Hujah mereka juga adalah ijma’ bahwasanya siapa yang meninggalkan mengusap telinga saat berwudhu maka wudhunya sah, dan tidak wajib mengulangi.

Pendapat yang rojih dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mewajibkan mengusap kedua telinga ketika berwudhu, sebagai berikut:

  1. Perbuatan terus-menurus Nabi dalam mengusap kedua telinga, dan ini menjelaskan adanya kewajiban, maka dibawalah ke makna wajib.
  2. Bahwasanya telinga termasuk dalam bagian kepala. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال الرسول: (الأذنان من الرأس)

“Kedua telinga termasuk bagian dari kepala.” (HR. Ibnu Majah dan disohihkan Al-Bani no. 438)

Maka mengusap kedua telinga wajib seperti saat mengusap kepala. Karena kedua telinga bagian dari kepala.

Adapun untuk masalah apakah harus memperbaharui air atau tidak, pendapat yang mendekati kebenaran dalam masalah ini adalah tidak wajib memperbaharui air saat ingin mengusap telinga, tetapi mengusapnya bersama mengusap kepala dengan air yang satu.

Berdasarkan hadits Rubayyi’ binti Muawwidz,

أنها رأت الرسول صلى الله عليه وسلم مسح رأسه ما أقبل منه وما أدبر وصدغيه وأذنيه مرة واحدة

Dia pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu, lalu dia berkata: Beliau mengusap kepalanya mengusap bagian depannya, bagian belakangnya, kedua pelipis dan kedua telinganya satu kali. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dan dihasankan Al-Bani, hadits no. 110)

Dalam hadits ini menjelaskan bahwa jika ingin mengusap kedua telinga tidak perlu memperbaharui air, tetapi mengusapnya menggunakan air yang satu saat ingin mengusap kepala.

Wallahu a’lam.

Penulis: Najla Aliyah Athifah

Pembimbing: Ustadz Yogi Galih Permana, B.A., M.H.

DAFTAR PUSTAKA

Jadawil Fiqhiyyah, Syaikh Dzahir bin Fakhri Adz-Dzahir

Mudzakkiroh Masalah Fiqih Wudhu, Ustadz Anas Burhanuddin

Terjemahan Bidaayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Ahmad Abu Al-Majd

Kategori: Fiqih

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *