Ibnu Umar pernah berkata dalam salah satu atsar, bahwa barangsiapa yang ingin mengikuti jejak seseorang (mengidolakan), hendaknya ia mengikuti jejak mereka yang sudah wafat. Karena orang-orang yang masih hidup tidaklah terlepas dari fitnah.

Kita mengamini pernyataan beliau sembari menengok kembali ke para pendahulu kita yang menorehkan noktah cemerlang dalam lembaran hikayat pertarikhan. Kita membaca cerita mereka dan akhirnya mempertanyakan “Siapa kita dibanding mereka?”

Mempelajari biografi ulama dan menelusuri kisah hidup mereka yang luar biasa adalah salah satu langkah pertama dalam proses “napak tilas”, perjalanan menempuh jejak yang sama sebagaimana yang mereka tempuh, demi meraih kemuliaan yang agung dan keistimewaan yang besar.

Diantara orang-orang dengan goresan keemasan dalam sejarah adalah tokoh yang akan kita bahas, Imam An-Nasaa’i.

NASAB DAN KELAHIRAN

Beliau adalah Imam Abu Abdirrahman Ahmad bin Syua’ib bin Ali bin Sinan bin Bahr An-Nasaa’i. Beliau lahir pada tahun 215 H di Nasaa, sebuah kota di Khurasan. Khurasan sendiri merupakan sebuah wilayah yang mencakup banyak negara, meliputi Afghanistan, Iran, Pakistan dan beberapa negara di Asia Tengah pada era itu. Adapun Nasaa, kota tersebut konon dinamai Nasaa karena dinisbatkan kepada Nisaa yang bermakna wanita. Manakala kaum muslimin di masa penaklukan sampai ke kota ini, para lelaki kabur meninggalkan tempat tinggal mereka dan para wanitalah yang mempertahankan kota dan maju angkat senjata. Namun wanita tidaklah diperangi, sehingga pertempuran dihentikan dan kota tersebut dinisbatkan kepada wanita.

SEMANGAT BELAJAR DAN KEILMUAN

Imam Nasaa’i muda pertama kali memulai perjalanan mencari ilmu di Naisabur, yang kira-kira harus ditempuh dengan jarak sepekan perjalanan. Selepas dari Naisabur, beliau bertolak menuju Baghdad dan berguru kepada Qutaibah selama sekitar satu tahun 2 bulan, dan itu bertepatan pada tahun 235 H, yaitu manakala beliau masih berusia 20 tahun. Perjalanan itu dilanjutkan ke Moro, kemudian Iraq, Syam, Mesir, Khurasan, Hijaz, dan negara-negara lainnya di berbagai belahan dunia keislaman.

GURU-GURU

Diantara ulama yang beliau ambil ilmunya adalah Ishaq bin Rahawaih, yang beliau temui majelisnya di Naisabur di awal rihlah beliau.Kemudian beliau juga mengambil hadis dari Imam Bukhari, Ahmad bin Hanbal dan putranya, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, juga dari Imam Abu Dawud As-Sijistani. Terdapat pula nama ulama kenamaan lainnya semisal Hisyam bin’Ammar, Muhammad bin Rafi’, Muhammad bin Nazhr Al-Masawir, Suwaid bin Nashr, Amr bin Zurarah Al-Kalbi, Ibrahim bin Ya’qub Al-Jauzajaani, Mahmud bin Ghaylan, Muhammad bin Nashr Al-Marwazi, dll.

MURID-MURID

Diantara orang-orang yang mengambil hadits dan berguru kepada beliau adalah putra beliau, Abdul Karim, juga Imam Thabrani, Abu Awaanah, Abu Ja’far Ath-Thahaawi, Abu Ja’far Al-Aqili, Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Al-Haddad (dan beliau meriwayatkan keseluruhan hadisnya hanya dari jalur Imam Nasaa’i), juga rawi sunan beliau, Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Ishaq Ibnus Sunni. Murid beliau yang tidak disebutkan masihlah sangat banyak, dan tidak mungkin disebutkan disini satu persatu. Nama-nama yang sudah disebutkan sebelumnya cukup membuktikan kredibilitas dan kebesaran beliau sebagai ulama hadis pada zamannya.

KARYA-KARYA

  1. As-Sunan Al-Kubra
  2. As-Sunan Al-Mujtabaa / Sunan Nasaa’I, yang disebut merupakan ringkasan riwayat sahih dari hadits dalam kitab sebelumnya.
  3. Fadhail As-Shahabah
  4. Khasaaish Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib
  5. Adh-Dhuafaa’ wal Matrukin
  6. Al-Muntaqaa min Amalil Yaum wal Lailah

PUJIAN ULAMA TERHADAP BELIAU

Abu Ali An-Naisaburi, salah seorang murid beliau mengatakan, “An-Nasaa’i adalah imam hadits, tanpa diragukan sedikitpun”

Al-Husain bin Al-Muzhaffar mengatakan, “Aku mendengar dari guru-guruku di Mesir, mereka semua mengakui kehebatan Abu Abdurrahman An-Nasaa’i dan kepantasannya menjadi imam bagi mereka. Mereka menggambarkan keteguhannya dalam beribadah siang dan malam, upayanya untuk berhaji setiap tahun dan berjihad, menghidupkan sunnah, menghindari majelis-majelis bersama penguasa, dan itu semua merupakan kegiatan beliau sampai wafatnya beliau dalam keadaan syahid.”

WAFAT DAN UMUR

Imam Nasaa’i wafat pada usia 88 tahun, pada bulan Sya’ban tahun 303 H. Tatkala itu beliau melihat realita bahwa penduduk Damaskus berpaling dari memuliakan Ali bin Abi Thalib sehingga beliau menyusun sebuah kitab mengenai keutamaan Ali. Sentimen terhadap Ali bin Abi Thalib dan anak keturunannya beserta pengikutnya memang masih bergejolak kala itu walaupun kekuasaan telah berpindah ke tangan Dinasti Abbasiyyah. Kitab beliau tersebut kemudian dibawa ke Syam, ke sebuah wilayah yang pernah menjadi pusat kekuasaan Dinasti Umawiyyah sebelum keruntuhan. Lalu orang-orang menanyakan keutamaan Abu Bakar, Umar dan Muawiyah radhiyallahu anhum sehingga beliau kembali menulis buku mengenai keutamaan para sahabat. Namun beliau tidaklah melanjutkan penulisan mengenai keutamaan Muawiyah sehingga orang-orang menuduh beliau menganut paham Syi’ah, lalu mereka mulai merendahkan beliau, memukuli, dan mencela kehormatan beliau. Hingga kemudian beliau dibawa bertolak ke Makkah dalam keadaan sakit. Beliau wafat di Makkah. Semoga Allah mengaruniakan kepada beliau kesyahidan dan melapangkan kubur beliau.

Penulis Artikel: Khumairo’ Binti Fritz

Pembimbing: Ustadz Hendri Waluyo Lensa, Lc.M.Hum.

Referensi:

1. Siyar A’laamin Nubalaa’, Syamsuddin Adz-Dzahabi, cetakan Muassasah Ar-Risalah, Beirut

2. Sunan An-Nasaa’i , Ahmad bin Ali An-Nasaa’i, cetakan Penerbit Daaarussalam, Riyadh

Kategori: Biografi

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *