حمدا لله صلاة وسلاما لرسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه ولا حول ولا قوة إلا بالله أما بعد

Para ulama bersepakat bahwa berkelanjutan dalam membasuh anggota wudhu dengan jeda pendek yang tidak menyebabkan anggota wudhu yang dibasuh menjadi kering maka ini tidak masalah.

Imam Nawawi rahimahullah menegaskan,

التفريق اليسير بين أعضاء الوضوء لا يضر بإجماع الأمَّة

Pemisah yang sebentar, antara pembasuhan anggota-anggota wudhu, tidak merusak keabsahan wudhu, berdasarkan kesepakatan seluruh ulama. (Al Majmu’ 1/478, dinukil dari Ahkam At-Thaharah 9/598)

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum muwalah dalam berwudhu. Muwalah adalah mencuci anggota wudhu secara berkelanjutan, serta tidak membiarkan anggota wudhu sebelumnya mengering/kering.

Sebab perbedaan pendapat adalah isytirak dalam wawu, maksudnya

bahwa wawu terkadang mengandung makna bersambung satu sama lainnya, dan terkadang mengandung makna tidak bersambung satu sama lainnya dengan jeda tertentu.

Demikian pula perbedaan pendapat ini terkadang disebabkan

perbedaan dalam memahami perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah dipahami wajib atau sunnah.

Pendapat pertama, pendapat Imam Ahmad dan Imam Malik, mereka berpendapat bahwa hukum muwalah adalah wajib.

Berdasarkan firman Allah:

إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ

“Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku…” (Al-Maidah: 6).

Waw ‘athaf, mengandung makna bersambung satu sama lainnya.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan perbuatan muwalah, dan ini menunjukkan atas wajibnya muwalah.

Pendapat kedua, pendapat Abu Hanifah dan Imam Syafi’i, mereka berpendapat bahwa muwalah bukan termasuk dalam wajib wudhu.

Berdasarkan firman Allah:

إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ

“Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku…” (Al-Maidah: 6).

Waw ‘athaf, mengandung makna makna tidak bersambung satu sama lainnya dengan jeda tertentu.

Dan berdasarkan dalil hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau berwudhu di awal bersuci (mandi besar) dan mengakhirkan membasuh kaki di akhir bersuci.

Pendapat yang rajih dalam masalah ini adalah pendapatan yang mengatakan bahwa muwalah adalah wajib.

Berdasarkan hadis Umar radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat laki-laki sholat dan di sedikit bagian belakang kakinya belum terkena air, maka Nabi menyuruh laki-laki itu untuk mengulangi wudhu dan sholat, jika tidak diwajibkan muwalah maka wudhu laki-laki itu sah.

Dalil lain yang mendukung kesimpulan ini adalah, hadis yang semakna
dari sahabat ‘Umar bin Al-Khatab radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa ada seseorang yang berwudhu dengan meninggalkan satu bagian sebesar kuku tidak terbasuh. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau lantas bersabda,

ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ

“Ulangilah perbaguslah wudhumu.” (HR. Muslim, no. 243)

Dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam juga tidak pernah berwudhu, kecuali selalu berkesinambungan.

Wallahu a’lam.

Penulis: Najla Aliyah Athifah

Pembimbing: Ustadz Yogi Galih Permana, B.A., M.H.

DAFTAR PUSTAKA

Bidaayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Rusd Hafidi

Jadawil Fiqhiyyah, Syaikh Dzahir bin Fakhri Adz-Dzahir

Mudzakkiroh Masalah Fiqih Wudhu, Ustadz Anas Burhanuddin

Muwalah (Berkesinambungan) Syarat Sah Wudhu?, Ahmad Anshori, https://konsultasisyariah.com/35690-muwalah-tertib-berkesinambungan-syarat-sah-wudhu.html

Kategori: Fiqih

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *