Meskipun zaman generasi utama sudah berlalu, estafet kemuliaan masih tetap digulirkan. Siapapun yang ingin merengkuh keutamaan, hendaknya ia mengejar kemuliaan. Menjadi penerus baru dari generasi yang telah berlalu tidak seharusnya melemahkan semangat kita tapi malah sebaliknya menjadi pembangkit dan penguat. Sebab setiap masa memiliki perjuangannya, orang dari masa lampau berjuang, dan orang dari masa kini berjuang. Arti perjuangan selalu dinamis, menyesuaikan perkembangan masa. Sehingga meskipun kita tidak pernah bisa menyamai kegigihan generasi terdahulu, namun meneladani kisah mereka untuk diaplikasikan dalam perjuangan kita adalah langkah terbaik.Benarlah petikan syair berikut,

لا تقل قد ذهبت أربابه  *  كل من سار على الدرب وصل

“Jangan katakan masa mereka telah berlalu, semua yang berjalan diatas jalannya akan sampai” 

NASAB DAN KELAHIRAN

Beliau adalah Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban At-Tamimi Al-Busti atau yang dikenal dengan Imam Ibnu Hibban. Beliau lahir pada tahun 273 H, di kota Bust, Khurasan.

SEMANGAT BELAJAR DAN KEILMUAN

Ibnu Hibban memulai menuntut ilmu sejak masa belia, beliau keluar sebagaimana para penuntut ilmu lainnya menempuh perjalanan mencari hadits  ke daulah islamiyah di berbagai penjuru dunia. Beliau mula-mula menempuh perjalanan mengelilingi negeri-negeri Khurasan seluruhnya, kemudian menuju Iraq, Mesir, Syam, Hijaz, Yaman, sampai sampai beliau mengambil hadits  dari sekitar 2000 guru.

Ibnu Hibban adalah contoh dalam perjalanan belajar, dimana beliau mengusai beragam bidang pengetahuan, beliau berkecimpung dalam fikih dan bahasa, beliau mendalami hadits , dan datang ke Naisabur dan mendirikan sebuah madrasah disana pada tahun 334 H sebagaimana penuturan murid beliau Al-Hakim, dimana disana dibacakan kepada beliau hasil karyanya hingga akhirnya beliau kembali ke kampong halamannya di Naisabur pada tahun 340 H dan orang-orang melakukan perjalanan thalabul hadits  ke negerinya untuk mengambil ilmu darinya.

“Semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya”, begitu kata pepatah. Suatu ketika Imam Ibnu Hibban diuji oleh Allah dengan fitnah yang menimpanya yang nyaris membuatnya terbunuh manakala beliau mengisi sebuah majelis di Naisabur dan seseorang bertanya mengenai pengertian nubuwwah dan beliau menjawabnya dengan ilmu dan amal (perkataan ini bisa dipahami dengan pemahaman yang benar sesuai syari’at). Namun orang-orang bodoh yang tidak mengetahui ilmunya dan Allah menguji mereka dengan itu malah berdiri dan meneriakinya dengan sebutan zindik, mereka mengangkat suara kemudian saling menghina hingga melarang orang agar duduk di majelisnya. Beliau diasingkan dengan hebat hingga memuncaklah fitnah tatkala orang-orang tersebut mengirimkan surat untuk perintah pembunuhannya kepada khalifah abbasiyyah pada masa itu. Lalu beliau menulis surat untuk menjelaskan duduk perkara dan menegaskan bahwa beliau bisa dibunuh jika tuduhan yang dilayangkan tersebut benar hingga akhirnya masalah berhasil diluruskan dan Imam Ibnu Hibban bersih dari tuduhan tersebut. Akan tetapi, fitnah tersebut masih disebarluaskan dan mereka tetap mengusir beliau dan memaksa beliau meninggalkan Naisabur menuju Sijistan dan kembali ke kampung halamannya dan beliau tinggal disana hingga akhir hayatnya.

GURU-GURU

Diantara guru beliau adalah Abu Khalifah Al-Fadhl bin Al-Hubab Al-Jumahi, Abu Abdirrahman An-Nasa’I, Ibnu Khuzaimah, Muhammad bin Hasan bin Qutaibah, Abi Arubah, Ahmad bin Ubaidillah Ad-Darimi, Said bin Hasyim, dan masih banyak lagi.

MURID-MURID

Diantara muhadits yang mengambil hadits  dari beliau adalah Abu Abdillah Al-Hakim, Abu Abdillah bin Mandah, Manshur bin Abdillah Al-Khalidi, Abdurrahman bin Muhammad bin Rizqillah As-Sijistani, Abul Hasan Ahmad bin Harun Az-Zawzani dan selainnya.

KARYA-KARYA

Karya beliau yang paling dikenal adalah kita yang beliau beri nama At-Taqaasim wal Anwa’ atau biasa dikenal dengan Shahih Ibnu Hibban. Beliau juga menulis beberapa karya di bidang tarikh, ilalul hadits , juga kitab yang merupakan manaqib dari para imam sepertiManaqib Imam Syafi’i, dan manaqib Imam Malik. Beliau juga menulis Adh-Dhuafaa’, Mauquf Ma Rufi’a, dan sebuah kitab berjudul Al-Hidayah. Beliau menulis banyak karya lainnya yang kemudian hilang disebabkan kekacauan manakala para perusak masuk ke rumahnya dan beberapa sebab lain.

PUJIAN ULAMA TERHADAP BELIAU

Abu Sa’d Al-Idrisi menyebutkan, “beliau pernah menjadi qadi di suatu waktu dan memiliki pemahaman ilmu fikih yang mendalam, merupakan huffazhul atsar, beliau memiliki pemahaman terhadap ilmu pengobatan dan mengetahui astronomi dan beragam bidang keilmuan.”

Al-Khatib Al-Baghdadi mengatakan, “Ibnu Hibban adalah orang yang tsiqah dan orang yang utama dan dalam pemahamannya”

WAFAT DAN UMUR

Ibnu Hibban wafat di malam Jum’at tanggal 22 Syawwal tahun 354 H dan dikuburkan setelah shalat Jum’at di shuffah yang telah dibangun dekat rumahnya di kota Bust. Rahimahullah rahmatan waasiatan wa askanahu fasiiha jannatihi.

Penulis Artikel : Khumairo’ Binti Fritz

Pembimbing : Ustadz Hendri Waluyo Lensa, Lc.M.Hum.

Referensi :

  1. Jaulatun ma’a Ibni Hibban wa Ilmihi bir Rijal wa Riwayatil Hadits, Abdulloh bin Yusuf Al-Ahmad, 2020

www.saaid.net

  • Mihnatul Imam Ibnu Hibban, Syarif Abdul Aziz Az-Zuhairi, 2016

www.alukah.net

  •  Siyar A’laamin Nubalaa, Syamsuddin Adz-Dzahabi, Mausu’ah Ar-Risalah, Beirut
Kategori: Biografi

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *