حمدا لله صلاة وسلاما لرسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه ولاحول ولاقوة الا بالله أما بعد

Para ulama bersepakat atas bolehnya mengusap kedua khuf yang utuh, dan mereka berbeda pendapat di dalam hukum mengusap khuf yang robek. Sebab perbedaan pendapat pada masalah ini yaitu peralihan dari membasuh kaki menjadi mengusap keduanya, apakah khuf harus menutupi seluruh bagian yang wajib dibasuh atau karena adanya kesulitan jika melepas khuf. Ada tiga pebedaan pendapat dalam masalah ini:

Pendapat pertama, Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa bolehnya mengusap khuf yang robek jika robeknya sedikit, adapun jika robeknya banyak maka tidak diperbolehkan mengusap khuf.

Mereka membedakan antara robek yang sedikit dan banyak termasuk ke dalam bab istihsan (menganggap sesuatu baik)dan termasuk menghilangkan kesulitan.

Pendapat kedua, Ats-Tsauri berpendapat bahwa bolehnya mengusap khuf secara mutlak, selama masih dapat digunakan untuk berjalan.

Sebab dari bolehnya mengusap khuf adalah karena adanya masyaqqah (kesulitan), maka robek tidak berpengaruh selama masih dinamakan khuf.

Dan dahulu khuf kaum Muhajirin dan Anshar tidak luput dari bolong, robek dan tambalan, dan mereka tidak meninggalkan mengusap khuf.

Pendapat ketiga, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa tidak bolehnya mengusap khuf jika yang robek adalah bagian depan sehingga jemari kakinya nampak, walaupun hanya sedikit.

Sebab peralihan dari membasuh kaki menjadi mengusap keduanya yaitu khuf harus menutupi seluruh bagian yang wajib dibasuh, maka tidak diperbolehkan mengusap khuf yang robek, karena jika kaki terlihat maka kefardhuan dari mengusap kembali kepada membasuh.

Pendapat yang rajih (yang mendekati kepada kebenaran) adalah pendapat pertama yang mengatakan bahwa bolehnya mengusap khuf yang robek jika robeknya sedikit, adapun jika robeknya banyak maka tidak diperbolehkan. Karena jika terdapat lubang yang besar pada khuf maka faidah dari menggunakan khuf sebagai penutup kaki akan menghilang.

Wallahu a’lam.

Penulis: Najla Aliyah Athifah

Pembimbing: Ustadz Yogi Galih Permana, B.A., M.H.

DAFTAR PUSTAKA

Jadawil Fiqhiyyah , Syaikh Dzahir bin Fakhri Adz-Dzahir

Terjemahan Bidaayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Ahmad Abu Al-Majd

Kategori: Fiqih

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *