بسم الله الرحمن الرحيم

Di antara al-maqashid al-khamsah (hifdzu ad-din, hifdzu an-nafs, hifdzu al-aql, hifdzu an-nasl, dan hifdzu an-nasl), hifdzu ad-din adalah yang paling penting dan utama, sedangkan maqashid yang lain adalah cabang dari hifdzu ad-din. Karena tanpa hifdzu ad-din maka maqashid yang lain akan mustahil untuk dijaga dan ditegakkan.

Hifdzu ad-din disini adalah agama yang haq dan benar yang turun dari sisi Allahﷻ kepada Nabi-Nya Muhammad ﷺ, karena agama-agama lain dari agama-agama samawiyyah seperti agama Nasrani dan Yahudi sudah terhapus oleh hukum Islam, dan Allah tidak menerima agama apapun setelah turunnya agama Islam, Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ﴾ (آل عمران:19))

Artinya: “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam.” (QS: Ali Imran:19)

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ﴾(آل عمران:85))

Artinya: “Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS: Ali Imran:85).

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa hifzdu ad-din merupakan unsur yang paling urgen dari syari’at Islam, menjaga nilai ketauhidan, ibadah, dan hukum-hukum Islam dari segala penyimpangan, kekufuran dan bid’ah dan hal-hal lain yang dapat merusak nilai keagamaan tersebut.

Wasilah/Cara untuk menjaga agama (Hifdzu ad-Din)

Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk menjaga agama ini, Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ﴾(الحجر:9))

Artinya: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya” (QS Al-Hijr: 9).

Dan berdasarkan ayat ini Allah Ta’ala mensyariatkan beberapa wasilah sebagai penjagaan agama kita. Dan penjagaan terhadap agama mencakup dari dua sisi:

  1. Penjagaan agama dari sisi al-wujud (الوجود): Menjaga agama dengan melaksanakan apa-apa yang diwajibkan dan ditetapkan oleh syari’at.
  2. Penjagaan agama dari sisi al-‘adam (العدم): Menjaga agama dengan mencegah dan menghindari apa-apa yang bisa merusak atau akan merusak agama kita, yaitu dengan menolak segala sesuatu yang menyelisihi syari’at, baik dari perkataan ataupun perbuatan.

Penjagaan Agama dari sisi al-wujud (الوجود)

1. Mengamalkan Agama Islam

Allah ta’ala menurunkan syari’at-syari’at agama Islam adalah untuk diamalkan, penjagaan agama tidak cukup dengan Menjaga Al-Qur’an dan Hadis saja, karena agama adalah tentang keyakinan dan amalan, dan buah yang diinginkan dari agama tidak akan ada kecuali dengan mengamalkannya. Al-Qur’an dan hadis tidak akan terjaga hanya dengan dihafalkan tetapi juga dengan diamalkan.

2. Berhukum dengan hukum Islam

Penjagaan terhadap agama tidak hanya dengan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga berpedoman denga hukum agama dalam pengaturan kehidupan bermasyarakat.

Konsep menjaga agama dengan cara berhukum dengannya dapat terealisasi dari beberapa hal berikut:

-Penjagaan agama oleh seorang Hakim terhadap dirinya dirinya sendiri, artinya dia berpegang teguh terhadap agama, dan Menjaga dirinya dari berhukum selain dengan hukum Allah. Allah Ta’ala berfirman:

(فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا)

(النساء:65)

Artinya: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS: An-Nisa’: 65)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman:

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ﴾(المائدة:44))

Artinya: “Barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (QS: Al-Maidah: 44).

-Seorang hakim juga menjaga agama Islam dengan cara memperkenalkan hukum-hukum Islam kepada masyarakat, dan menegakkan hukumnya juga menjadikan hukum tersebut dominan di masyarakat.

-Berhukum dengan agama Islam dan memperaktekan hukum-hukumnya dapat menutup dan mencegah kesempatan dari para penyimpang agama dan ahli bid’ah untuk menyebarkan pikiran-pikiran sesat di antara manusia, karena jika mereka mengetahui sebuah negara yang berbegang teguh terhadap agama serta menegakkan hukum-hukumnya maka mereka tidak akan menyebarkan pikiran sesat mereka.

3. Mendakwahkan agama Islam

Mendakwahkan agama Islam adalah sesuatu yang Allah perintahkan lewat Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah Ta’ala berfirman:

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ﴾(آل عمران:104))

Artinya: “Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS: Ali Imran: 104).

Di dalam sebuah hadis Rasulullah ﷺ bersabda:

بلّغوا عنّي ولو آية….) رواه البخاري)

Artinya: “Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR.Bukhori).

Dan termasuk dari mendakwahkan agama adalah dengan mengajarkannya, mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar, dan menolak pemahaman para penyeleweng agama, juga menyingkap syubhat mereka agar diketahui oleh masyarakat kemudian menjelaskan kebenarannya agar masyarakat terhindar dan terlindungi dari pemahaman-pemahaman yang dapat merusak agama. Oleh karena itulah mendakwahkan agama Islam adalah salah satu wasilah yang paling penting dan paling bermanfaat untuk menjaga kelangsungan agama Islam dan penyebarannya.

4. Berjihad untuk membela agama Islam

Berjihad di jalan Allah dalam rangka membela agama Islam adalah salah satu cara yang paling penting untuk menjaga agama ini, karena dengan cara mendakwahkan agama Islam saja belum tentu diterima oleh semua manusia. Sebagian dari mereka akan menentang dan menginkari dakwah Islam, bahkan sampai melarang dan mencegah orang lain untuk mengikuti seruan dakwah Islam, dengan begitu mereka akan menguasai kaum muslimin dan memeranginya.

Kaum muslimin harus berjihad fii sabilillah dalam rangka menjaga agama ini, menolong serta melindungi hak-hak kaum lemah, menghilangkan penghalang yang menghalangi manusia dari memeluk agama Islam agar agama ini dapat tersebar lebih luas diantara manusia.

Dan diantara nash yang menunjukkan pentingnya berjihad untuk menjaga agama adalah firman Allah Ta’ala sebagai berikut:

وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّهُدِّمَتۡ صَوَٰمِعُ وَبِيَعٞ وَصَلَوَٰتٞ وَمَسَٰجِدُ يُذۡكَرُ فِيهَا ٱسۡمُ ٱللَّهِ كَثِيرٗاۗ﴾(الحج:40))

Artinya: “Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) Sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid yang pasti di dalamnya banyak disebut nama Allah…”(QS: Al-Hajj: 40).

Tafsir dari ayat tersebut adalah seandainya Allah tidak mensyari’atkan kepada manusia untuk menolak kedholiman dan kebatilan dengan jalan peperangan maka akan musnahlah kebenaran dari setiap umat di muka bumi ini, dan tempat-tempat ibadah seperti sinagog Yahudi, gereja Nasrani, dan masjid-masjid yang di dalamnya ibadah-ibadah didirikan dan nama-nama Allah disebut akan dihancurkan dan dimusnahkan dari muka bumi.

(Bersambung ke bagian 2)

Referensi:

1.Maqashid al-Syari’ah Wa ‘Alaqatuha Bi al Adillat al-Syar’iyyat, Muhammad Sa’ad bin Ahmad bin Mas’ud Al-Yubi,Saudi Arabia: Dar Ibnu Jauzi, hal: 187,188,189,191,192,193,194,196.

2. Konsep Maqashid Al- Syari’at dan Dharurat, UIN SUSKA Riau, hal: 50.

3.Materi Mata Kuliah Maqashid Syari’ah (STDI Imam Syafi’i), Arif Khusnul.Khuluq, pertemuan keempat.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *