Bismillahirrahmanirrahim…

Pada artikel kali ini kita akan menjelaskan tentang maqashid syari’ah al-khomsah, yaitu maqshud hidzu an-nafs (penjagaan jiwa).

Agama Islam sangat memedulikan, menghargai dan melindungi jiwa dan nyawa manusia. Bagaimana darah manusia itu sangat berharga dan tidak boleh sembarang ditumpahkan.

Karena penjagaan nyawa manusia sangatlah besar perkaranya dan sangatlah penting maka Islam mensyari’atkan hukum-hukum yang dengannya bisa meraih kebaikan untuk jiwa dan mencegah apa-apa yang merusak dan menghilangkan jiwa.

Lalu mengapa Islam sangat memerhatikan hal ini? Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin )rahmat bagi semesta alam( memerintahkan umatnya untuk beramal shalih yang darinya akan tercipta kemaslahatan, kemaslahatan individual ataupun sekitarnya dan jika Islam tidak melindungi nyawa pemeluknya maka hal tersebut bisa menyebabkan musnahnya manusia yang mereka adalah para mukallaf (yang dibebani untuk menjalankan syari’at) maka jika umat manusia saling membunuh akan menyebabkan hilangnya agama Allah dari muka bumi ini. Dari sini kita ketahui pula bahwa maqashid syari’ah al-khomsah adalah saling berkaitan satu sama lain. Hifdzu an-nafs berkaitan erat dengan hifdzu ad-din, tanpa menjaga jiwa para pemeluknya maka agamapun akan musnah pula.

Dan yang dimaksud di dalam syari’at Islam untuk dijaga nyawanya adalah mereka yang memeluk Islam atau kaum muslimim, orang kafir yang membayar jizyah ataupun kafir dzimmi (orang kafir yang berada di bawah perlindungan kaum muslimin). Adapun kaum kafir harbi (kaum kafir yang boleh diperangi) maka tidak mengapa untuk membunuh dan memerangi mereka, karena ada kemudharatan yang lebih besar jika membiarkan mereka hidup daripada membunuh mereka, sebagaimana prinsip dari maqashid syari’ah adalah “ mendapatkan kemaslahatan dan menolak kemudhartan atau keburukan”.

Tetapi pada beberapa keadaan syari’at Islam mensyari’atkan untuk membunuh pemeluknya seperti dalam hukum qishas karena dia adalah pelaku pembunuhan atau dalam syari’at rajam karena dia adalah pelaku zina padahal dia sudah menikah. Syari’at ini bukan berarti menunjukan bahwa Islam adalah agama yang kejam dan meremehkan nyawa manusia, sama sekali bukan! Tetapi dengan membunuh mereka ada kemaslahatan yang lebih besar daripada kemaslahtan yang didapat dengan membiarkan mereka hidup. Maka Islam harus memilih untuk kemaslahatan yang lebih besar.

Al-Yubi dalam kitabnya Maqashid as-syari’ah al-Islamiyah menyebutkan bahwasanya ada beberapa wasilah-wasilah yang ditetapkan oleh syariat Islam dalam rangka menegakkan prinsip hifdzu an-nafs ini, beberapa di antaranya adalah:

1. Islam Mengharamkan pembunuhan

Islam mengharamkan pembunuhan dan memasukkannya ke dalam kategori dosa-dosa besar. Terdapat banyak ayat-ayat al-Qur’an dan hadits nabi yang berbicara tentang hal tersebut, Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يَقۡتُلۡ مُؤۡمِنٗا مُّتَعَمِّدٗا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَٰلِدٗا فِيهَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُۥ وَأَعَدَّ لَهُۥ عَذَابًا عَظِيمٗا﴾ (النساء:93))

Artinya: “Dan barangsiapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS An-Nisa:93).

Bahkan dalam ayat tersebut Allah mengancam pelaku pembunuhan dengan neraka jahannam, suatu larangan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya disertai dengan ancaman maka itu adalah dosa besar.

Kemudian pada ayat lainnya Allah Ta’ala juga berfirman,

وَلَا تَقۡتُلُواْ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۚ﴾ (الأنعام:151))

Artinya: ”janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar.”

Kemudian larangan tersebut juga datang dari sabda Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi,

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:2 رواه البخاري

Artinya: “Siapa yang membunuh (kafir) mu’ahad (terikat perjanjian damai) maka dia tidak akan dapat mencium wangi surga, padahal harumnya dapat tercium dari jarak perjalanan 40 tahun”.

Termasuk yang dimaksud dalam hadits ini kafir dzimmi, mu’ahad dan musta’man. Yaitu yang memiliki perjanjian bersama kaum muslimim baik dengan membayar jizyah (denda) atau perjanjian dengan pemerintah kaum muslimin atau mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin. Maka dari sini kita bisa melihat kearifan syari’at Islam yang memberikan perhatian bahkan untuk kesalamatan orang kafir dan larangan serta ancaman yang keras bagi mereka yang membunuh orang kafir yang tidak boleh dibunuh.

Maka bisa kita melihat dari dalil-dalil nash tersebut sisi penjagaan jiwa (hifdzu an-nafs) dalam Islam yaitu, orang muslim yang berakal dan benar-benar beriman tidak akan pernah melakulkan pembunuhan setelah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits yang melarangnya bahkan terdapat ancaman bagi pelakunya, karena sudah seyogyanya bagi seorang muslim untuk menta’ati apa -apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa-apa yang Allah larang, mencintai apa-apa yang Allah cintai dan membenci apa-apa yang Allah benci, maka dengan iman yang seperti itulah seorang muslim akan terhindar dari dosa besar tersebut dan juga ancaman atau akibat yang akan didapat dari pelaku pembunuhan. Beginilah agama Islam menjaga jiwa-jiwa umatnya (hifdzu an-nafs). Dan jika semua umat manusia taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya tidak akan ada lagi pembunuhan di bumi ini dan jayalah umat manusia. Kita cukupkan sampai sini pembahasan mengenai hifdzu an-nafs dan Insya Allah akan kami lanjutkan pada kesempatan berikutnya. Wallahu a’lam

Referensi:

1.Maqashid al-Syari’ah Wa ‘Alaqatuha Bi al Adillat al-Syar’iyyat, Muhammad Sa’ad bin Ahmad bin Mas’ud Al-Yubi,Saudi Arabia: Dar Ibnu Jauzi, hal: 204-205.

2.Materi Mata Kuliah Maqashid syari’ah (STDI Imam Syafi’i), Arif Khusnul.Khuluq, pertemuan kelima.

3. Al Bukhori, Muhammad bin Ismail, Jami’ As Shohih,no.3166.

  1. Bismillahirrahmanirrahim…

    Pada artikel kali ini kita akan menjelaskan tentang maqashid syari’ah al-khomsah, yaitu maqshud hidzu an-nafs (penjagaan jiwa).

    Agama Islam sangat memedulikan, menghargai dan melindungi jiwa dan nyawa manusia. Bagaimana darah manusia itu sangat berharga dan tidak boleh sembarang ditumpahkan.

    Karena penjagaan nyawa manusia sangatlah besar perkaranya dan sangatlah penting maka Islam mensyari’atkan hukum-hukum yang dengannya bisa meraih kebaikan untuk jiwa dan mencegah apa-apa yang merusak dan menghilangkan jiwa.

    Lalu mengapa Islam sangat memerhatikan hal ini? Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin )rahmat bagi semesta alam( memerintahkan umatnya untuk beramal shalih yang darinya akan tercipta kemaslahatan, kemaslahatan individual ataupun sekitarnya dan jika Islam tidak melindungi nyawa pemeluknya maka hal tersebut bisa menyebabkan musnahnya manusia yang mereka adalah para mukallaf (yang dibebani untuk menjalankan syari’at) maka jika umat manusia saling membunuh akan menyebabkan hilangnya agama Allah dari muka bumi ini. Dari sini kita ketahui pula bahwa maqashid syari’ah al-khomsah adalah saling berkaitan satu sama lain. Hifdzu an-nafs berkaitan erat dengan hifdzu ad-din, tanpa menjaga jiwa para pemeluknya maka agamapun akan musnah pula.

    Dan yang dimaksud di dalam syari’at Islam untuk dijaga nyawanya adalah mereka yang memeluk Islam atau kaum muslimim, orang kafir yang membayar jizyah ataupun kafir dzimmi (orang kafir yang berada di bawah perlindungan kaum muslimin). Adapun kaum kafir harbi (kaum kafir yang boleh diperangi) maka tidak mengapa untuk membunuh dan memerangi mereka, karena ada kemudharatan yang lebih besar jika membiarkan mereka hidup daripada membunuh mereka, sebagaimana prinsip dari maqashid syari’ah adalah “ mendapatkan kemaslahatan dan menolak kemudhartan atau keburukan”.

    Tetapi pada beberapa keadaan syari’at Islam mensyari’atkan untuk membunuh pemeluknya seperti dalam hukum qishas karena dia adalah pelaku pembunuhan atau dalam syari’at rajam karena dia adalah pelaku zina padahal dia sudah menikah. Syari’at ini bukan berarti menunjukan bahwa Islam adalah agama yang kejam dan meremehkan nyawa manusia, sama sekali bukan! Tetapi dengan membunuh mereka ada kemaslahatan yang lebih besar daripada kemaslahtan yang didapat dengan membiarkan mereka hidup. Maka Islam harus memilih untuk kemaslahatan yang lebih besar.

    Al-Yubi dalam kitabnya Maqashid as-syari’ah al-Islamiyah menyebutkan bahwasanya ada beberapa wasilah-wasilah yang ditetapkan oleh syariat Islam dalam rangka menegakkan prinsip hifdzu an-nafs ini, beberapa di antaranya adalah:

    1. Islam Mengharamkan pembunuhan

    Islam mengharamkan pembunuhan dan memasukkannya ke dalam kategori dosa-dosa besar. Terdapat banyak ayat-ayat al-Qur’an dan hadits nabi yang berbicara tentang hal tersebut, Allah Ta’ala berfirman,

    وَمَن يَقۡتُلۡ مُؤۡمِنٗا مُّتَعَمِّدٗا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَٰلِدٗا فِيهَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُۥ وَأَعَدَّ لَهُۥ عَذَابًا عَظِيمٗا﴾ (النساء:93 []

  2. مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا []

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *