Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya. Segala puji bagi-Nya dan semoga Dia senantiasa mencurahkan rahmat dan berkah-Nya kepada nabi-Nya dan siapapun yang mengikutinya hingga akhir zaman.

Melanjutkan artikel sebelumnya, pembahasan kali ini adalah tentang rukun ketiga dari enam rukun iman, yaitu: Iman Kepada Kitab-Kitab Allah.

  • Kitab, Wahyu Tuhan Yang Dituliskan

Kata kitab atau dalam bahasa indonesia terkadang diartikan sebagai buku, pada dasarnya merujuk kepada lembaran-lembaran yang tertulis (mengandung tulisan). Kitab mencakup lembaran-lembaran tersebut beserta tulisan yang ada didalamnya.

Kitab dalam konteks agama bermakna lebih spesifik, yaitu: lembaran-lembaran yang mengandung firman-firman Allah yang telah Dia wahyukan kepada para rasul-Nya ‘alaihimussalam. Baik yang Allah turunkan dalam bentuk tertulis seperti Taurat, atau melalui lisan malaikat yang kemudian dituliskan seperti Al-Qur’an.

Singkatnya, kitab adalah wahyu Tuhan (Allah) yang dituliskan.

  • Tentang Wahyu, Bimbingan Allah Untuk Ciptaan-Nya

Wahyu dalam terminologi syariat artinya: pemberitahuan Allah kepada para nabi-Nya menurut kehendak-Nya, berupa sesuatu dari syariat (aturan) Allah atau kitab, baik melalui perantara ataupun tidak (tanpa perantara).

Diantara wahyu-wahyu ini, ada yang nantinya Allah perintahkan agar disampaikan juga kepada kaum nabi yang menerima wahyu tersebut. Seperti wahyu Allah kepada rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam, yang kemudian menjadi petunjuk bagi seluruh alam.

Wahyu merupakan bentuk kelembutan dan perhatian Allah kepada ciptaan-Nya. Melalui wahyu-wahyu tersebut Allah memberi petunjuk dan arahan, yang didalamnya terdapat kebaikan dan kemaslahatan bagi mereka. “Mereka (para jin) berkata, ‘Wahai kaum kami! Sungguh, kami telah mendengarkan Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan setelah Musa, (kitab tersebut) membenarkan (kitab-kitab) yang datang sebelumnya, membimbing kepada kebenaran, dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Ahqaf: 30) Melalui wahyu, Allah membimbing makhluk-Nya agar mereka dapat meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan melindungi mereka dari kesengsaraan dan kerugian.

Diantara hikmah Allah adalah, Dia selalu menurunkan wahyu yang sesuai dengan umat yang akan menerimanya. Allah menurunkan wahyu beberapa kali, kepada umat tertentu di zaman tertentu, dengan rentang waktu antar kitab yang juga telah diperhitungkan dengan teliti. Dan wahyu-Nya yang terakhir, Al-Qur’an sesuai untuk semua ciptaan-Nya, dimanapun dan kapanpun hingga hari kiamat.

Wahyu juga menjadi bukti adanya sifat Kalam (berbicara/berfirman) bagi Allah. “Para rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berfirman (berbicara) kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 253)

  • Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah

Iman kepada kitab-kitab Allah, sebagaimana ruku-rukun iman lainnya, adalah pokok penting dalam akidah seseorang, yang mana keimanan seseorang tidak akan sempurna, diakui, apalagi berbuah tanpa hal ini. Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa yang ingkar kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab Nya, para rasul-Nya dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh.

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan hamba-hamba Nya yang beriman untuk masuk ke dalam seluruh aturan iman, termasuk rukun-rukun dan cabang-cabangnya. Maka pertama-tama Allah memerintahkan kepada mereka untuk beriman kepada-Nya, kemudian utusan-Nya, lalu kitab-kitab yang telah Dia wahyukan kepada para utusan-Nya. Dia memerintahkan mereka untuk beriman baik kepada kitab yang Allah turunkan untuk zaman mereka (Al-Qur’an), maupun kepada kitab-kitab yang Allah turunkan bagi umat-umat sebelum mereka, seperti: Taurat, Injil dan Zabur. Kemudian Allah jelaskan di penghujung ayat, bahwasanya orang yang tidak beriman kepada salah satu dari rukun iman, maka dia telah tersesat sejauh-jauhnya.

Wa billahi at-taufiq wa al-hidayah. Wallahu a’lam.

REFERENSI:

  1. Al-Qur’an Al-Karim
  2. Tafsir Al-Qurthubi
  3. Ushul Al-Iman fi Dhau’il Kitab wa As-Sunnah
Kategori: Tauhid

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *