Mahasuci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang, sebagaimana Dia juga menjadikan padanya matahari dan bulan yang bersinar. Segala puji bagi-Nya, Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad, yang kita nanti-nantikan syafaatnya baik di dunia maupun di akhirat.

Melanjutkan artikel sebelumnya, pembahasan kali ini adalah tentang rukun kedua dari enam rukun iman, yaitu: Iman Kepada Para Malaikat.

Siapakah Para Malaikat?

Mereka adalah salah satu ciptaan Allah yang kemudian menjadi penghuni langit, sebagaimana manusia menjadi penghuni bumi. Allah menciptakan mereka dari cahaya, seperti dalam sabda Rasul: “Malaikat diciptakan dari cahaya. Jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian.” HR. Muslim (no. 2996).

Mereka juga dikatakan memiliki kekuatan yang besar, dan Allah telah menghendaki mereka untuk menyembah-Nya dan melakukan perintah-Nya, sehingga mereka tidak bermaksiat kepada Allah dan mereka melakukan apa yang Allah perintahkan kepada mereka. “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim: 6) “Mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya pada malam dan siang hari, sedang mereka tidak pernah jemu.” (QS. Fussilat: 38)

Mereka mampu berubah bentuk, menyerupai dan tervisualisasi dalam bentuk-bentuk yang mulia. Allah berfirman dalam kisah Maryam: “lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka, lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri (menjelma) di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.” (QS. Maryam: 17)

Allah menciptakan para malaikat memiliki sayap, dan setiap malaikat memiliki jumlah sayap yang berbeda-beda. “Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi. Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap. Masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fathir: 1)

Jibril adalah malaikat dengan jumlah sayap terbanyak, yaitu sebanyak 600 sayap. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud mengenai makna ayat: “Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,” (QS. An-Najm: 13) Rasulullah bersabda: “Aku melihat Jibril di Sidratul Muntaha, dia memiliki enam ratus sayap. Dari bulu sayapnya bertaburan permata dan batu-batu mulia.” (HR Ahmad).

Malaikat disebut-sebut sebagai ciptaan Allah yang berparas rupawan, Disebutkan dalam kisah Yusuf ‘alaihissalam bahwa para wanita menyebut beliau seperti malaikat, karena ketampanan parasnya yang tidak manusiawi (terlalu tampan sampai mereka ragu ada manusia setampan itu). “Ketika perempuan-perempuan itu melihatnya, mereka terpesona kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka (tanpa sadar) melukai tangannya sendiri. Seraya berkata, “Mahasempurna Allah, ini bukanlah manusia. Ini benar-benar malaikat yang mulia.” (QS. Yusuf: 31)

Diantara kekhususan malaikat adalah, mereka semua laki-laki. Maka tidak ada malaikat perempuan. Allah berfirman: “Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang merupakan hamba-hamba (Allah) Yang Maha Pengasih itu sebagai perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan (malaikat-malaikat itu)?” (QS. Az-Zukhruf: 19)

Derajat ‘Iman Kepada Para Malaikat’

Iman kepada malaikat adalah salah satu rukun iman dalam agama Islam, yang mana keimanan seseorang tidak akan sempurna tanpanya. Allah telah menetapkan hal itu dalam kitab-Nya. Allah berfirman: “Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`ān) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. (Mereka) semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.” (QS. Al-Baqarah: 85) Allah mendefinisikan manusia utusan-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai orang-orang yang meyakini dan percaya tentang beberapa poin, dan diantaranya yaitu kepercayaan terhadap para malaikat-Nya.

Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian,

Allah Ta’ala juga mengatakan kontras dengan ini bahwa siapa pun yang tidak percaya pada rukun iman ini (iman kepada para malaikat) telah kafir kepada Allah, sebagaimana Ia berfirman: “Dan barang siapa yang kafir kepada Allah dan para malaikat-Nya dan Kitab-Kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya dan Hari Akhir dan Hari Akhir maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh.” (QS. An-Nisa: 136) Dia menyebut orang-orang kafir sebagai orang-orang yang mengingkari rukun-rukun ini, dan menggambarkan mereka sebagai kesesatan yang dibuat-buat. Ini menunjukkan bahwa beriman kepada malaikat adalah rukun iman yang agung dan meninggalkannya adalah jalan keluar dari agama.

Hal tersebut akan terasa lebih masuk akal saat kita menyadari bahwa sejatinya, segala kabar tentang malaikat, baik eksistensi, penciptaan, peran mereka di dunia, sifat-sifat dan kekhususan mereka, segalanya datang dari Allah. Maka orang yang mengingkari adanya malaikat, sejatinya dia mengingkari kebenaran berita Allah. Dan tidak mungkin seseorang mengatakan dirinya beriman, dirinya islam, berserah diri kepada Allah, sedangkan hatinya tidak percaya dengan apa yang Allah sampaikan, tidak terima dan tidak berserah diri.

Bagaimana Kita Beriman Kepada Para Malaikat?

Seperti dalam artikel-artikel sebelumnya, konsep iman adalah tentang keyakinan seseorang. Dimana seseorang mempercayai dan membenarkan sesuatu dengan hati, lisan dan badannya. Karena pada dasarnya segala hal tentang malaikat adalah kabar dari Allah, secara umum iman kepada para malaikat adalah tentang mempercayai kebenaran bahwasanya mereka ada dan mereka merupakan makhluk ciptaan Allah. Kita meyakini keberadaan mereka sesuai sifat-sifat yang telah Allah gambarkan. Kita meyakini bahwa mereka berjumlah banyak, tidak ada yang tahu berapa angka pastinya selain Allah. Kita meyakini mereka sebagai utusan Allah, yang tidak bermaksiat dan tidak pernah lelah beribadah, mereka memiliki sayap, mereka bertingkat-tingkat derajatnya, dan lain sebagainya.

Secara rinci, kita meyakini adanya malaikat-malaikat yang disebutkan secara khusus dalam Al-Qur’an dan Sunnah: seperti Jibril, Mikail, Israfil, Malik, Harut, Marut, Ridwan, Munkar dan Nakir, dan lain-lain. Ada pula yang disebutkan dalam bentuk deskripsi sifatnya, seperti: Raqib (yang mengawasi) dan Atid (yang senantiasa mencatat), atau dengan menyebutkan pekerjaannya: Seperti malaikat maut dan malaikat gunung, atau mereka yang disebutkan fungsinya dalam dalil-dalil tersebut: seperti pembawa takhta, atau yang berperan dalam pemeliharaan ciptaan, mereka yang dipercayakan dengan pemeliharaan janin dan rahim. Wallahu a’lam.

REFERENSI:

  1. Al-Qur’an Al-Karim
  2. As-Sarraj fi Bayan Gharib fi Al-Qur’an, Muhammad bin Abdul Aziz Al-Khudhairi
  3. Shahih Muslim
  4. Ushul Al-Iman fi Dhau’il Kitab wa As-Sunnah
Kategori: Tauhid

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *