Bismillah, seperti biasa, kita mulai dengan memuji Allah Yang Maha Sempurna 3dalam semua sifatnya. Segala puji bagi-Nya yang telah mencurahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada utusan Allah dan panutan kita, Muhammad, dan para pengikut setianya hingga akhir zaman.

Selamat pagi, siang, sore, malam, atau kapanpun kalian membaca ini. Artikel kali ini akan membahas tentang rukun iman yang pertama dan landasan utama agama Islam, tentang Iman Kepada Allah.

Apa Itu Iman Kepada Allah?

Seperti yang kita bahas di artikel sebelumnya, ada enam pokok utama yang menjadi akar bagi akidah Islam. Iman kepada Allah merupakan salah satu dari keenam pilar tersebut. Bahkan disebut-sebut sebagai akarnya akar-akar keimanan atau akar rukun iman. Sementara rukun lainnya merupakan cabang-cabang yang bermuara dan terbangun diatas poin ini.

Iman kepada Allah memiliki beberapa pengertian yang sebenarnya semakna, meski mungkin lafadznya berbeda-beda. Diantaranya:

  1. Mengesakan Allah dalam perkara-perkara yang layak bagi-Nya.
  2. Mengesakan Allah dengan hak-hak Nya.
  3. Keyakinan yang teguh dari lubuk hati akan keberadaan dzat-Nya Yang Maha Tinggi. Bahwasanya Dia adalah yang pertama, maka tidak ada sesuatupun sebelum-Nya. Dan Dialah yang terakhir, maka tidak ada sesuatu pun setelah-Nya.
  4. Keyakinan yang teguh bahwa Allah adalah Tuhan dan Penguasa segala sesuatu, satu-satunya Pencipta dan Penguasa seluruh alam semesta. Bahwa Dialah yang berhak disembah satu-satunya dan tidak ada sekutunya, maka setiap Tuhan selain Dia palsu, dan menyembah mereka adalah bathil.

Beberapa definisi tadi, jika kita kumpulkan dan teliti secara bersamaan, sebenarnya kembali kepada satu pokok yang sama, yaitu keyakinan terhadap eksistensi dan keesaan Allah.

Apa Saja Yang Terkandung Dalam Iman Kepada Allah?

Melihat kembali kepada beberapa definisi yang telah disebutkan, kita bisa mengambil kesimpulan bahwasanya Iman atau percaya kepada Allah mengandung empat perkara penting:

  1. Keyakinan terhadap eksistensi (keberadaan) Allah. Bahwasanya Allah itu ada, nyata secara dzat. Dia bukan halusinasi orang jaman dahulu, bukan dongeng atau legenda, apalagi produk mental yang terlahir dari kelemahan manusia. “Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha: 14)
  2. Keyakinan terhadap uluhiyah (ketuhanan) Allah. Yaitu mengagungkan Allah dengan kerendahan hati, ketundukan, cinta, hormat, rukuk dan sujud kepada-Nya, pengorbanan, sumpah, dan semua jenis ibadah lainnya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. “Sungguh, Tuhanmu hanyalah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia.” (QS. Thaha: 98)
  3. Keyakinan terhadap rububiyah Allah. Bahwasanya Allah adalah Penguasa atau Raja yang mengatur segala sesuatu. Dia yang menciptakan, memberi rizki, mengarahkan, membimbing dan mengurus semua itu. Dan karena Dia adalah satu-satunya pencipta, maka segala sesuatu selainnya adalah makhluk. “Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya? Jika (Allah) Yang Maha Pengasih menghendaki bencana terhadapku, pasti pertolongan mereka tidak berguna sama sekali bagi diriku dan mereka (juga) tidak dapat menyelamatkanku. Sesungguhnya jika aku (berbuat) begitu, pasti aku berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya, aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku.” (QS. Yasin: 23-25)
  4. Keyakinan terhadap Asma wa sifat-Nya. Yakni mengistimewakan dan mengesakan Allah dengan nama-nama yang Dia gunakan untuk menggambarkan diri-Nya sendiri baik dalam Kitab-Nya maupun melalui lisan Nabi-Nya, shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk didalamnya pengakuan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan bahwa Dialah yang Hidup, Yang Abadi, Yang tidak merasa lelah dan tidak tidur. Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana, dan tidak ada yang serupa dengan-Nya. “Dialah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maharaja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hasyr: 22-24)

Agama Islam disebut-sebut sebagai agama tauhid, atau yang menganut monoteisme (kepercayaan terhadap satu Tuhan). Yang memang keyakinan Islam terbangun atas dasar bahwasanya Allah adalah esa dalam kekuasaan-Nya dan segala perbuatan-Nya, esa dalam dzat-Nya, nama-nama dan sifat-sifat Nya, dan esa dalam ketuhanan-Nya dan hak-Nya untuk disembah.

Dan kandungan Al-Qur’an sebenarnya satu diantara dua: pemberitahuan tentang keesaan Allah dalam segala hal yang menjadi hak-Nya, atau seruan untuk beribadah (yang kemudian juga hanya ditujukan kepada Allah semata).

Wallahu a’lam.

Referensi:

  1. Al-Qur’an Al-Karim
  2. Al-Iman Billah, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hammad
  3. Durus fi Al-Aqidah, Abdul Aziz Ar-Rajihi
  4. Ushul Al-Iman fi Dhau’il Kitab wa As-Sunnah
Kategori: Tauhid

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *