Pengertian Hajb

Hajb secara bahasa berarti al-man’u yang artinya adalah menghalangi, adapun secara istilah adalah terhalangnya seorang ahli waris dari mendapatkan sebagian warisan atau seluruhnya disebabkan adanya ahli waris yang lain.

Ini merupakan bagian penting untuk menentukan hak atau kadar warisan, karena salah satu syarat untuk mendapatkan warisan adalah tidak adanya sebab penghalang. Dalam menentukan ahli waris yang berhak mendapatkan harta warisan harus dilihat dari paling dekatnya hubungan kekerabatan.[1]

Sebab-sebab Hajb

  1. Hajb aushaf
  2. Hajb asykhas, terperinci menjadi dua macam;
    • Hajb nuqshan
    • Hajb hirman

Sebab pertama: hajb aushaf

Hajb aushaf adalah keadaan di mana ahli waris tersifati dengan salah satu dari tiga penghalang utama seseorang mendapatkan warisan; perbudakan, pembunuhan, perbedaan agama atau non Islam.

Sehingga ketika seorang kerabat pewaris adalah seorang budak atau yang membunuh pewaris atau beragama non Islam maka keberadaannya dianggap tidak ada atau dalam arti lain dia tidak mendapat warisan karena dia telah dikeluarkan dari daftar ahli waris.

Sebab kedua: hajb asykhash

Hajb asykhash adalah keadaan di mana seorang ahli waris menjadi sebab terhalangnya ahli waris yang lain untuk mendapatkan sebagian atau seluruh harta dari hak atau kadar warisannya.

Hajb asykhash terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Hajb Nuqshan

Hajb nuqshan adalah bergesernya hak ahli waris dari bagian yang besar menjadi bagian yang kecil, karena adanya ahli waris lain yang mempengaruhinya.[2] Sebagai contoh seorang istri hak atau kadar warisannya adalah ¼ namun ketika suami pewaris memiliki dua, tiga atau empat istri maka kadar warisan ¼ tersebut dibagi rata untuk seluruh istri, yang artinya hak seorang istri bergeser menjadi lebih sedikit ketika ada banyak istri dibandingkan ketika dia sendirian. Keadaan seperti ini disebut izdiham dalam istilah ilmu waris. Keadaan lain misalnya, seorang istri ketika mayyit (suaminya) tidak memiliki anak, hak atau kadar warisannya ¼ namun ketika mayyit (suaminya) memiliki anak (laki-laki maupun perempuan) maka hak warisnya berkurang menjadi ⅛. Keadaan seperti ini disebut intiqol.

  • Hajb Hirman.

Hajb hirman adalah tertutupnya (hilangnya) hak seorang ahli waris sepenuhnya disebabkan adanya ahli waris lain yang lebih utama. Sebagai contoh seorang cucu laki-laki (dari anak laki-laki) merupakan ahli waris, namun ketika anak laki-laki pewaris masih hidup maka cucu tidak jadi mendapatkan warisan sama sekali sebab terhalangi oleh kekerabatan anak pewaris yang lebih dekat dan kuat.

Adapun perincian tentang ahli waris dalam masalah hajb nuqshan dan hajb hirman insya Allah akan dibahas pada artikel berikutnya.

Oleh: Avivi Kayla

Referensi:

Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq, cet. Darul Fikr, Beirut.

Hukum Kewarisan Islam (sebagai Pembaharuan Hukum Positif di Indonesia), H. Moh, Muhibbin dan H. Abdul Wahid,Sinar Grafika, Jakarta.

Hukum Waris Islam, Aulia Muthiah dan Novy Sri Pratiwi Hardani, Pustaka Yustisia, Yogyakarta.

Kitab Al-Faraidh, Abdush Shamad bin Muhammad Al-Katib, cet. Universitas Islam Madinah, Madinah.


[1] Aulia Muthiah dan Novy Sri Pratiwi Hardani, Hukum Waris Islam (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2015), hlm. 66.

[2] Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah (Beirut: Darul Fikr, 1983), hlm. 440.

Kategori: Ilmu waris

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *