Pada artikel sebelumnya telah dibahas bahwa hajb nuqshon dan hajb hirman adalah cabang dari hajb asykhas yang merupakan salah satu dari dua sebab hajb (aushaf dan asykhas). Pada artikel ini kita akan membahas lebih lanjut seputar hajb nuqshan.

Sebelum masuk pada perinciannya mari kita sedikit mengulang tentang definisi dari hajb nuqshan. Hajb nuqshan adalah bergesernya hak ahli waris dari bagian yang besar menjadi bagian yang kecil, karena adanya ahli waris lain yang mempengaruhinya[1]. Dalam hajb nuqshan ada dua keadaan; izdiham dan intiqol yang mana masing-masing memiliki gambaran kelompok kasus yang beragam.

Izdiham

Izdiham secara bahasa dapat diartikan berkerumun, dalam kasus hajb bisa dipahami bahwa ahli waris berkerumun satu dengan yang lainnya yang menyebabkan hak warisnya berkurang karena habis dibagi bersama ahli waris yang lain. Pada keadaan izdiham terdapat tiga kelompok gambaran kasus:

  1. Izdiham fi fardhin

Berkumpulnya ashhabul furudh[2] dalam satu kadar warisan yang sama, seperti:

  • Para istri (2-4 istri) haknya adalah ¼ atau ⅛[3]
  • Para nenek (2 atau lebih) haknya ⅙
  • Anak-anak perempuan, para cucu perempuan dari anak laki-laki, para saudari kandung, para saudari seayah haknya adalah ⅔
  • Para cucu perempuan dari anak laki-laki dan para saudari perempuan seayah haknya ⅙ (sesuai ketentuan pada syarat warisan 1/6 sebagaimana yang telah dibahas pada artikel sebelumnya)

Berkumpulnya mereka dalam satu kadar warisan yang sama berakibat kurangnya harta warisan pada masing-masing personil. Sebagai contoh apabila seorang ayah meninggal dan yang menjadi ahli warisnya adalah ketiga putrinya maka ⅔ dari harta warisan dibagi rata untuk ketiga putrinya. Yang mana ketika pewaris hanya memiliki seorang putri maka hak warisnya adalah ½ (½ untuk seorang lebih banyak daripada ⅔ dibagi untuk bertiga).

2. Izdiham fi ta’shib

Berkumpulnya ‘ashobah[4] dalam satu derajat yang sama sehingga menjadi ‘ashobah bersama, seperti:

  • Anak-anak atau para cucu laki-laki (dan terus ke bawah)
  • Para saudara dan saudari sekandung atau seayah
  • Para keponakan laki-laki dari saudara sekandung atau seayah
  • Para paman sekandung atau seayah (dan terus ke bawah)
  • Anak-anak paman sekandung atau seayah (dan terus ke bawah)
  • Orang-orang yang memerdekakan budak (laki-laki atau perempuan) dan para ‘ashobah[5] mereka.


3. Izdiham fi ‘aul

Berkumpulnya ‘ashhabul furudh yang menyebabkan shiham al-masalah lebih besar dari ashlu al-masalah atau dalam bahasa mudahnya, keadaan di mana jumlah seluruh saham warisan lebih besar dari bilangan pembagi warisan itu sendiri, sehingga pembagiannya dibulatkan sesuai dengan kaidah ilmu waris yang dibahas khusus dalam permasalahan ‘aul.

Intiqol

Intiqol secara bahasa berarti berpindah, dalam kasus hajb bisa dipahami bahwa seorang ahli waris haknya sebagai ‘ashabah atau kadar warisannya sebagai ashhabul furudh berpindah ke kadar atau hak yang lebih kecil disebabkan adanya ahli waris lain yang lebih utama. Dalam kasus ini ada empat keadaan, begini lebih jelasnya:

1. Intiqol min fardhin ila fardhin aqoll minhu

Yaitu berpindahnya kadar warisan ke kadar yang lebih sedikit. Ini berlaku bagi ashhabul furudh yang memiliki dua fardh atau kadar warisan, seperti:

  • Suami haknya ½
  • Istri haknya ¼
  • Ibu haknya ⅓

Ketika pewaris meninggalkan anak maka kadar warisannya berpindah menjadi lebih sedikit:

  • Suami haknya menjadi ¼
  • Istri haknya menjadi ⅛
  • Ibu haknya menjadi ⅙

Contoh lainnya adalah cucu perempuan (dari anak laki-laki) ketika hanya seorang (tunggal) kadar warisannya adalah ½ dan jika berkerumun (dua atau lebih) warisannya ⅔ namun ketika pewaris meninggalkan seorang anak perempuan yang berhak mendapat kadar warisan ½ maka cucu perempuan (dari anak laki-laki) haknya berpindah menjadi ⅙.


2. Intiqol min fardhin ila ta’shib aqoll minhu

Yaitu berpindahnya kadar warisan ashhabul furudh menjadi ‘ashabah dengan hak waris yang lebih sedikit. Ini berlaku bagi ashhabul furudh yang kadar warisannya ½ ketika bertemu dengan ahli waris lain yang menjadikan dia ‘ashobah bi al-ghair (’ashobah bersama ahli waris lain).[6]

3. Intiqol min ta’shib ila ta’shib aqoll minhu

Yaitu berpindahnya hak ‘ashabah menjadi lebih sedikit. Ini berlaku bagi ‘ashabah ma’a al-ghair (’ashabah karena ahli waris yang lain) ketika bertemu ‘ashobah yang lain sehingga dia berpindah status menjadi ‘ashobah bi al-ghair (’ashobah bersama ahli waris lain).

4. Intiqol min ta’shib ila fardhin aqoll minhu

Yaitu berpindahnya hak ‘ashabah menjadi ashhabul furudh dengan kadar warisan yang lebih sedikit. Ini hanya berlaku pada ayah dan kakek dari ayah (dan terus ke atas). Ketika aslinya berkedudukan sebagai ‘ashabah lalu berpindah menjadi ashhabul furudh dengan kadar warisan ⅙ disebabkan ada anak laki-laki pewaris.

Catatan: hajb nuqshan dapat berlaku untuk seluruh ahli waris, tanpa terkecuali.

Selanjutnya adalah hajb hirman yang insya Allah akan kita ulas pada artikel berikutnya.

Oleh: Avivi Kayla

Referensi:

Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq, cet. Darul Fikr, Beirut.

Hukum Waris Islam, Aulia Muthiah dan Novy Sri Pratiwi Hardani, Pustaka Yustisia, Yogyakarta.

Kitab Al-Faraidh, Abdush Shamad bin Muhammad Al-Katib, cet. Universitas Islam Madinah, Madinah.


[1] Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, (Beirut: Darul Fikr, 1983), hlm. 440.

[2] Ahli waris yang hak atau kadar warisannya telah ditentukan oleh syariat.

[3] Lihat artikel “Kadar Ketentuan Pembagian Waris yang Sudah Ditetapkan dalam Al-Quran” untuk murajaah keadaan ashhabul furudh sesuai kadar warisannya. 

[4] Ahli waris yang menerima seluruh sisa harta warisan setelah ashhabul furudh menerima dan mengambil bagiannya masing-masing.

[5] ‘Ashobah di sini adalah ‘ashobah bi an-nafsi (‘ashabah dengan sendirinya atau murni)

[6] Murajaah kembali pembahasan ‘ashabah

Kategori: Ilmu waris

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *