Pengertian ’Ashobah

Kata ‘ashobah dalam bahasa Arab berarti kerabat seseorang dari pihak bapak. Disebut demikian, dikarenakan mereka yakni kerabat bapak menguatkan dan melindungi. Dalam kalimat bahasa Arab banyak digunakan kata “’ushbah” sebagai ungkapan bagi kelompok yang kuat.

Sedangkan pengertian ’ashobah menurut istilah para fuqaha ialah ahli waris yang tidak disebutkan porsinya atau bagiannya di dalam al-qur’an dan as-sunnah dengan tegas. Sebagai contoh, anak laki-laki, cucu laki-laki keturunan anak laki-laki, saudara kandung laki-laki, saudara laki-laki seayah, dan paman (saudara kandung ayah). Kekerabatan mereka sangat kuat dikarenakan berasal dari pihak ayah.

Pengertian ’ashabah yang sangat masyhur di kalangan ulama faraid ialah orang yang menguasai harta waris karena ia menjadi ahli waris tunggal. Selain itu, ia juga menerima seluruh sisa harta warisan setelah ashhabul furudh menerima dan mengambil bagian masing-masing.[1]

Sebab-sebab Ta’shib (menjadi ’ashabah)

  1. Sebab nasab, mencakup;
    • seluruh kerabat laki-laki kecuali saudara laki-laki seibu
    • anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki ke bawah, saudara kandung perempuan, dan saudara perempuan seayah (dalam beberapa keadaan tertentu)
  2. Sebab Perbudakan;
    • Seseorang yang membebaskan budak (’ashobah dengan sendirinya).

Macam-macam ‘Ashobah

1. ’Ashobah bi an-nafsi (’ashobah dengan sendirinya)

Ada 14 orang:

  1. Anak laki-laki
  2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki ke bawah
  3. Ayah
  4. Kakek (dari jalur ayah ke atas)
  5. Saudara kandung laki-laki
  6. Saudara laki-laki seayah
  7. Keponakan/anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki ke bawah
  8. Keponakan/anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah ke bawah
  9. Paman kandung ke atas
  10. Paman seayah ke atas
  11. Anak laki-laki dari paman kandung ke bawah
  12. Anak laki-laki dari paman seayah ke bawah
  13. Seorang laki-laki yang membebaskan budak
  14. Seorang perempuan yang membebaskan budak.

Apabila ahli waris yang ada hanyalah salah satu dari ’ashobah di atas maka ia mewarisi seluruh harta, apabila ada ahli waris dari ashhabul furudh maka setelah pembagian harta, ’ashobah mendapatkan sisa harta yang ada. Namun jika warisan habis dibagi untuk ashhabul furudh maka ’ashobah tidak mendapatkan harta warisan sama sekali.

Terkecuali anak laki-laki ia tidak mungkin tidak mendapatkan sisa harta warisan.

Suami bukanlah kerabat sehingga tidak termasuk ’ashobah meskipun ia termasuk ahli waris. Dan pada macam ’ashobah ini tidak ada perempuan kecuali seseorang yang membebaskan budak.

2. Ashobah bi al-ghair (’ashobah bersama ahli waris lain)

Ada 4 orang:

  1. Anak perempuan bersama anak laki-laki
  2. Cucu perempuan bersama cucu laki-laki (keduanya dari anak kandung laki-laki)
  3. Saudara kandung perempuan bersama saudara kandung laki-laki
  4. Saudara perempuan seayah bersama saudara laki-laki seayah.

Apabila ’ashobah perempuan berkumpul dengan saudara laki-lakinya maka ia tidak lagi menjadi ashhabul furudh, dan berpindah menjadi ’ashobah sehingga harta warisan dibagi bersama dengan kadar laki-laki setara dengan 2 perempuan.

3. ’Ashobah ma’a al-ghair (’ashobah karena ahli waris yang lain)

Ada 2 orang:

  1. Saudara kandung perempuan jika ada anak perempuan atau cucu perempuan
  2. Saudara perempuan seayah jika ada anak perempuan atau cucu perempuan

Apabila orang-orang di atas berkumpul sebagai ahli waris maka keberadaan anak perempuan atau cucu perempuan menyebabkan saudara perempuan (kandung atau seayah) menjadi ’ashobah dengan keadaan anak perempuan atau cucu perempuan tetap mendapatkan warisan sesuai kadarnya sebagai ashhabul furudh.

Jika didapati saudara perempuan kandung atau seayah menjadi ’ashobah ma’a al-ghair dan ’ashobah bi al-ghair  dalam satu waktu maka dalam kedaan seperti ini didahulukan ’ashobah bi al-ghair.

Adapun hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah; tidak boleh ada dua ’ashobah dalam tatanan ahli waris sehingga salah satu ahli waris pasti akan terhalangi oleh salah satu yang lain karena kedudukannya lebih kuat. Lebih jelasnya semoga terjawab pada pembahasan hajb dalam artikel berikutnya insya Allah.

Oleh: Avivi Kayla

Referensi:

Hukum Waris Islam, Aulia Muthiah dan Novy Sri Pratiwi Hardani, Pustaka Yustisia, Yogyakarta.

Kitab Al-Faraidh, Abdush Shamad bin Muhammad Al-Katib, cet. Universitas Islam Madinah, Madinah.


[1] Aulia Muthiah dan Novy Sri Pratiwi Hardani, Hukum Waris Islam (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2015), hlm. 46.

Kategori: Ilmu waris

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *