APA ITU?

Generasi sandwich mengacu pada orang dewasa yang harus menanggung hidup tiga generasi; orang tuanya, dirinya sendiri dan di kemudian hari, anak-anaknya. Sehingga seseorang itu berada di tengah-tengah, terjepit seperti isian sandwich. Lebih sedehananya dapat disebut sebagai generasi yang terjepit oleh beban tanggungan dari generasi di atas dan di bawahnya.

Istilah ini dicetuskan oleh Dorothy Miller, seorang profesor di Universitas Kentucky, Lexington, Amerika Serikat pada tahun 1981. Inilah istilah yang belakangan menjadi tren di kalangan urban dan sebagai muslim kita harus peka dan mulai memikirkan persoalan keuangan ini.  Di jagat media maya, orang – orang ikut menanggapi terkait hal ini;

Sandwich Generation more like you have to, not you want to.’

Sandwich generation tuh bukan sekedar mau nyenengin ortu, CMIIW. Mereka tuh yang kena tanggung jawab untuk ngebiayain saudara dan orang tua karena udah pensiun.’

Kebanyakan dari mereka mengeluh karena mereka menjadi tidak bisa menikmati hasil kerja keras sendiri, karena sudah habis diberikan pada generasi lain yang sudah tidak bekerja atau belum bekerja.

DALAM KACA MATA ISLAM

Menyikapi hal tersebut, Buya Yahya pun menanggapi dan memberi pandangan tentang sandwich generation dalam Islam.

“Istilah-Istilah begitu nanti trend, jadi enggak mau menghargai orang tua, dianggapnya orang tua adalah beban, orang tua merepotkan.” (Meidy Achmad Harish, “Dalam Islam, Jadi Sanwich Generation Itu Harus Bangga!”)

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

“Seseorang (anak) diharuskan menafkahi kepada kedua orang tuanya dan anaknya baik lelaki maupun perempuan. Kalau mereka fakir sementara (anaknya) mampu untuk memberikan infak kepadanya. Asal kewajiban memberi nafkah kepada kedua orang tua dan anak – anak adalah Kitab, Sunnah, dan Ijma’. Kalau dalam kitab, maka firman Allah ﷻ 

فإن أرضعن لكم فآتوهن أجورهن

“Kemudian jika mereka menyusukan (anak- anakmu) untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya.”(Q.S Thalaq; 6)” (Hendri Lensa, “Anak Menafkahi Ortu”, dalam channel telegram, tanggal 25 Maret 2023)

 Islam tidak mengenal istilah seperti ini. Istilah-istilah yang justru membawa lebih banyak dampak negatif ketimbang dampak positifnya. Sebagai umat Muslim, sudah menjadi kewajiban kita untuk menimbang maslahat dan madharat terhadap sesuatu tertentu. Apabila madharat-nya lebih besar daripada maslahat, maka lebih baik kita tinggalkan.

Dalam media sosial sendiri istilah ini dapat kita temukan dalam hal yang menjuru dan memberi dampak negatif. Pandangan masyarakat terhadap pemenuhan hak-hak orang tua yang merupakan kewajiban pun berubah, mereka tak lagi menganggap hal tersebut adalah kewajiban yang harus ditunaikan. Mereka memandang bahwa hal ini termasuk beban yang mengekang leher-leher mereka dari suatu kebebasan. Kebebasan untuk memiliki kehidupan hedon, atau foya-foya salah satunya.

Hak-Hak Orang Tua yang wajib ditunaikan

Mengetahui hak-hak orang tua merupakan suatu keharusan bagi kita sebagai anak-anaknya. Hal ini agar kita bisa menjadi anak-anak yang berbakti kepada orang tua kita. 

Allah ﷻ berfirman berkaitan tentang hak orang tua:

و قضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه و بالوالدين إحساناً إما يبلُغنّ عندك الكبر أحدهما أو كلاهما فلا تقل لهما أفٍّ ولا تنهرْهما و قلّ لهما قولاً  كريماً

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik- baiknya. Jika salah satu diantara keduanya atau dua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka ucapan yang mulia.” (Q.S Al – Isra’ [17]:23)

Ayat tersebut menunjukkan kepada kita bahwa hak orang tua datang langsung setelah hak Allah ta’ala. Tentu saja hal ini merupakan dalil yang kuat yang menunjukkan bahwa hak orang tua itu sangatlah besar atas anak-anaknya.3

Sebagaimana seorang anak memiliki hak yang wajib orang tuanya tunaikan, begitu pula pada orang tua terdapat hak – hak yang wajib seorang anak tunaikan. Terlebih lagi dalam masalah menafkahi orang tua. Namun seringkali masalah nafkah untuk orang tua menjadi  polemik di kalangan sebagian anak. Mereka saling lempar tangan untuk urusan menafkahi orang tua. Allahul musta’an.

Tak ayal, banyak kita jumpai di luaran sana orang tua yang masih bersusah payah mencari rupiah di usia senja. Disamping itu mereka memiliki anak-anaknya yang mendapatkan rezeki berlebih. Alasan yang mereka lontarkan cukup mengiris kalbu; tidak mau merepoti dan menjadi beban untuk anak-anaknya.

Ketika orang tua masih hidup, maka kita para anak hendaknya berlomba-lomba berbakti kepada orang tua semaksimal mungkin. Dari Abu Ibni Malik dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

من أدْرَكَ والديْه أو أحدهما، ثمَّ دخل النار من بعدِ ذلك، فأبْعَدَه الله و أسحَقَه

“Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, lalu setelah itu ternyata masuk neraka, maka Allah akan masukan ia lebih dalam lagi ke dalam neraka.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya, 4/344. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah, 2/42 – 43)

Demikian juga hendaknya kita para anak tidak saling melempar tanggung jawab dalam berbakti kepada kedua orang tua, namun hendaknya berusaha terdepan dan berlomba-lomba dalam berbakti kepada orang tua walaupun belum jatuh kewajiban pada diri kita. 

SUMBER

  1. Al Qur’an Al Karim
  2. Dalam Islam, Jadi Sandwich Generation Harus Bangga!, Meidy Achmad Harish, 2023,
  3. https://www.bingkainasional.com/hidayah/3467819300/dalam-islam-jadi-sandwich-generation-itu-harus-bangga
  4. Siapa yang Menafkahi Orang Tua?, Yulian Purnama, S.Kom., 2020,
  1. Hak – hak Orang Tua yang Harus Ditunaikan oleh Anak – Anaknya – Bagian ke-1 – Tabshiratul Anam bil Huquqi fil Islam, Abu Ya’la Kurnaedi, Lc., 2014,
Kategori: Tematik

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *