عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةٍ – رضي الله عنه: أَنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – تَوَضَّأَ، فَمَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ، وَعَلَى الْعِمَامَةِ وَالْخُفَّيْنِ. أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Artinya: Dari Mughirah ibnu Syu’bah radhiallahu ’anhu: “Sesungguhnya nabi shallallahu ’alaihi wasallam pernah berwudu, kemudian beliau  mengusap  ubun-ubunnya, mengusap imamahnya, dan mengusap alas kakinya” (HR. Bukhari no. 182 dan  Muslim no. 274)

Penjelasan makna hadis

Hadis ini menjelaskan tentang cara Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berwudu yang disaksikan oleh sahabat Mughirah ibn Syu’bah radhiallahu ‘anhu , bahwasanya beliau shallallahu’alaihi wasallam ketika berwudu mengusap ubun-ubunnya, kemudian mengusap imamahnya (penutup kepala/sorban yang dipakai diatas kepala), kemudian mengusap alas kaki atau sepatu yang biasa digunakan untuk bepergian atau beraktivitas.

Apakah ada syarat yang dikhususkan dalam masalah ini?

Dijelaskan pada  taudhihul al-ahkam fi syarhi umdatil ahkam, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam permasalahan ini, di antaranya :

  1. Hendaknya praktek ibadah hanya dilakukan oleh laki-laki bukan wanita.
  2. Sorban tersebut menutup seluruh kepala, kecuali bagian yang biasa terbuka.
  3. Sorban tersebut diikat dengan rapat hingga bagian depan leher, dan memiliki kain yang menjulur dibelakang, karena jika tidak, imamah bisa dengan mudah dilepas, sehingga lebih dianjurkan untuk mengusap kepala.

Apakah sama cara mengusap imamah dan mengusap kepala?

Secara umum, tidak ada perbedaan antara mengusap kepala dan imamah, yaitu dengan mengusap secara menyeluruh, karna di dalam hadis ini juga dijelaskan bahwasannya Nabi shallallahu’alaihi wasallam juga mengusap sebagian kepala yang tidak tertutupi oleh sorbannya, itu menandakan bahwa mengusap imamah sama dengan mengusap kepala.

Khilaf ulama didalam permasalahan ini.

Beberapa ulama berselisih pendapat tentang tata cara ini. Seperti yang disebutkan di dalam taudhihul al-ahkam fi syarhi umdatil ahkam bahwasannya ada ulama yang membolehkan ini, seperti diantaranya Imam Ahmad bin Hanbal. Sebaliknya ada pula beberapa ulama yang tidak membolehkannya seperti ulama tiga mazhab, (Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan juga Imam Malik) rahimahumullah ajma’in.

Pendapat yang rajih adalah diperbolehkan memakai imamah ketika shalat, begitu pula mengusapnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh Shalih Al-Utsaimin rahimahullah:

وقد سبق في أثر ابن عمر أنه قال لمولاه نافع: «أتخرجُ إلى النَّاس حاسرَ الرَّأس؟ قال: لا، قال: فالله أحقُّ أن يُستحى منه» وهو يدلُّ على أن الأفضل ستر الرأس

“Pernah kami sampaikan sebuah atsar dari Ibnu Umar, beliau berkata kepada mantan budak yang bernama Nafi’:‘Apakah engkau keluar menemui orang-orang dengan tanpa penutup kepala?’ Nafi’ berkata: ‘Tidak.’ Ibnu Umar berkata: ‘Sungguh malu kepada Allah adalah lebih layak daripada kepada yang lain‘. Hal ini menunjukkan bahwa menutup kepala itu lebih afdhal” (Syarhul Mumthi’, 2/137)

Hal-hal yang harus diperhatikan di dalam permasalahan ini.

  1. Mengusap kepala bukanlah sesuatu yang asing bagi kalangan ahlul hadis atau bangsa arab, karna memang kebiasaan mereka yang selalu menggunakan penutup kepala, justru hal ini terasa aneh menurut masyarakat awam yang jarang mengenakannya.
  2. Tidak boleh menyikapi  hal ini dengan berlebihan atau menjadikan ghuluw, atau pun memaksakan diri dalam mempraktekannya.
  3. Penutup kepala yang digunakan adalah menyesuaikan urf atau kebiasaan masyarakat di daerah tersebut, tidak perlu menyulitkan diri dengan memakai pakaian yang tidak ada di daerahnya.
  4. Mengusap imamah adalah perkara yang mubah atau diperbolehkan dengan syarat-syarat yang telah disebutkan sebelumnya.

Referensi:

SUBULUS SALAM SYARH BULUGHUL MARAM jilid 1, Syekh Muhammad bin Ismail Al-Amir As-Shan’ani, tahqiq Fawwaz Ahmad Ramzali dan Ibrahim Ahmad Al-Hambali, cet. pertama Dar Ar-Rayyan Li At-Turos, Bairut-Lebanon.

TAUDIHUL-AHKAM FI AS-SYARHI BULUGHUL MARAM-MAKTABAH SYAMILAH

MINHATUL ALLAM FI AS-SYARHI BULUGHUL MARAM-MAKTABAH SYAMILAH

Mengusap Peci dan Kerudung Ketika Berwudhu, Bolehkah?, Muhammad Saifudin Hakim, 2022. https://muslim.or.id/23599-mengusap-peci-dan-kerudung-ketika-berwudhu-bolehkah.html#

Penulis: Fitri Irma Yani

Pembimbing: Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, MA.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *