الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد صلى الله عليه وسلم ومن تبعهم بإحسان

 إلى يوم الدين: أما بعد

Para Ulama telah bersepakat bahwa semua jenis air di muka bumi ini suci dan mensucikan, berdasarkan firman Allah Ta’ala

(وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ)

Artinya: “Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu[1].”

Jenis-jenis air yang boleh digunakan untuk bersuci adalah air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air mata air, dan air salju, dan air dari hasil hujan es. Tetapi para Ulama berbeda pendapat apakah air laut diperbolehkan digunakan untuk bersuci?

Pendapat pertama: Jumhur Ulama berpendapat bahwa hukum bersuci menggunakan air laut adalah boleh. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang air laut;

(هو الطاهر ماؤه، الحل ميتته)

Artinya: “Air laut itu suci dan menyucikan, bangkainya pun halal”.[2]

Pendapat kedua: Sebagian para Sahabat diantaranya Ibn Umar dan Amr ibn Al-Ash berpendapat bahwa bersuci menggunakan air laut hukumnya adalah makruh.

Ibnu Umar dan Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhu berkata;

(التيمم أعجب إلينا من ماء البحر)

Artinya: “Bertayamum (ketika tidak mendapatkan air) adalah lebih baik daripada menggunakan air laut”.

Hadis yang menguatkan pendapat mereka adalah hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu;

(عن عبد الله بن عمرو قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «لا يركب البحر إلا حاج، أو معتمر، أو غاز في سبيل الله، فإن تحت البحر نارا).[3]

Artinya: “Janganlah pergi melaut kecuali mereka yang akan berperang, haji, atau menunaikan umrah. Sesungguhnya di bawah lautan itu adalah neraka“.

Hanya saja Ulama berpendapat bahwa hadits ini dhoif.

Pendapat rajih atau yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat jumhur Ulama yang memperbolehkan bersuci menggunakan air laut[4].

Adapun sifat air yang diperbolehkan untuk bersuci, para Ulama bersepakat bahwa segala jenis air yang tidak tercampuri sesuatu apapun yang bisa mengubahnya maka hukum air tersebut adalah suci dan mensucikan.

Para Ulama juga bersepakat bahwa air yang tercampuri sesuatu yang najis dan mengubah salah satu atau lebih dari sifatnya, baik rasanya, warnanya, ataupun baunya maka hukum air tersebut adalah tidak suci dan tidak mensucikan[5]. Wallahu A’lam.

Oleh: Nadia Al-Hanifiyah.

Pembimbing : Ustadz Yogi Galih Permana, B.A., M.H.


[1] QS Al Anfal: 11.

[2] HR. Abu Daud, no. 83; Tirmidzi, no. 69; An-Nasai, 1:50; Ibnu Majah, no. 386. Hadits ini sahih, perawinya terpercaya. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:26-27.

[3] سنن أبي داودكتاب الجهاد باب في ركوب البحر في الغزو (حديث رقم: 2489 )

[4] Dhahir ibn Fakhri Adh-Dhahir, Al-Jadawil Al-FIqhiyyah, Syabakah Al-Alukah, Juz 1, Hlm.50.

[5] Ibnu Rusyd Al-Qurthubi, Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Maqashid,(Kairo: Dar Ibn Jauzi) Cet.1, Thn 2014, Hlm.31.

Kategori: Fiqih

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *