Bag.4

Bismillahirrahmanirrahim….

Melanjutkan pembahasan yang sebelumnya mengenai hukum qishash. Qishash identik dengan aturan hukum mati dalam Islam, oleh karenanya ada syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum melaksanakan hukum qishash, dan salah satu syaratnya adanya bukti yang jelas dan cukup untuk ditegakannya hukum qishash, dan inilah menjadi salah satu wasilah Islam dalam menerapkan prinsip hifdzu an-nafs dalam syari’at-syari’atnya.

Imam Al-Yubi menyebutkan wasilah yang keempat dan yang kelima dalam penerapan prinsip hifdzu an-nafs dalam kitabnya yang berjudul Maqashid al-Syari’ah Wa ‘Alaqatuha Bi al Adillat al-Syar’iyyat, yaitu:

4. Wajib Ada Bukti yang Jelas dalam Penerapan Hukuman Mati.

Sebelumnya telah kita ketahui bahwasannya Islam sangat menjaga dan menghormati nyawa sesuai dengan salah satu prinsip maqashid syari’ah yaitu hifdzu an-nafs. Dan di antara bentuk perhatian Islam adalah mewajibkan adanya bukti yang jelas sebelum menegakkan hukum qishash. Bahwasanya seseorang yang akan dikenai hukum qishash benar-benar melakukan jarimah (kejahatan) yang pantas mendapatkan hukuman mati.

Bukti yang dimaksud bisa berupa pengakuan dari pelaku kejahatan itu sendiri, atau adanya kesaksian dari muslim yang ‘adil (terpercaya) dengan jumlah yang telah ditentukan syari’at sesuai dengan kejahatan yang dilakukannya, yaitu 4 orang saksi untuk hukuman rajam (hukuman bagi pelaku zina yang sudah menikah), dan 2 saksi untuk kejahatan-kejahatan lain yang mendapat ancaman hukuman mati bagi pelakunya seperti pembunuhan. Sehingga hukuman mati tidak akan jatuh kecuali jika syarat-syarat diberlakukannya telah terpenuhi. Dan salah satu syaratnya adalah adanya saksi, karena had yang berupa hukuman mati jika dilakukan tanpa syarat-syarat yang telah ditentukan maka ini merupakan bentuk pelanggaran dari salah satu prinsip maqashid syari’ah yaitu hifdzu an-nafs.

Allah Ta’ala berfirman tentang wajibnya saksi dalam had zina,

لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ (النور:13)

Artinya: “ Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak datang membawa empat saksi? Oleh karena mereka tidak membawa saksi-saksi, maka mereka itu dalam pandangan Allah adalah orang-orang yang berdusta” (QS: An-Nur:13).

5. Membayar Diyat sebagai Ganti Jiwa

Diyat adalah sejumlah denda yang dikeluarkan oleh pelaku pembunuhan kepada keluarga korban yang memaafkan perbuatannya. Adanya diyat merupakan bentuk pengganti hukuman qishash. Dalil tentang syari’at diyat termuat dalam firman Allah di surah Al-Baqarah ayat 178 yang berbunyi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡقِصَاصُ فِي ٱلۡقَتۡلَىۖ ٱلۡحُرُّ بِٱلۡحُرِّ وَٱلۡعَبۡدُ بِٱلۡعَبۡدِ وَٱلۡأُنثَىٰ بِٱلۡأُنثَىٰۚ فَمَنۡ عُفِيَ لَهُۥ مِنۡ أَخِيهِ شَيۡءٞ فَٱتِّبَاعُۢ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَأَدَآءٌ إِلَيۡهِ بِإِحۡسَٰنٖۗ ذَٰلِكَ تَخۡفِيفٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَرَحۡمَةٞۗ فَمَنِ ٱعۡتَدَىٰ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَلَهُۥ عَذَابٌ أَلِيم(البقرة:178)

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu (melaksanakan) qisas berkenaan dengan orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan. Tetapi barangsiapa memperoleh maaf dari saudaranya, hendaklah dia mengikutinya dengan baik, dan membayar diat (tebusan) kepadanya dengan baik (pula). Yang demikian itu adalah keringanan dan rahmat dari Tuhanmu. Barangsiapa melampaui batas setelah itu, maka ia akan mendapat azab yang sangat pedih.”

Syari’at diyat merupakan salah satu bentuk perhatian Islam terhadap prinsip penjagaan jiwa (hifdzu an-nafs), bahwa darah pelaku pembunuhan pun tidak akan tumpah kecuali dengan cara yang haq, dan hukuman qishash ditegakkan apabila terpenuhi syarat-syaratnya dan keluarga korban tidak memaafkan perbuatannya. Adapun apabila pihak keluarga korban memaafkan maka bukan hukuman berupa qishash tetapi berubah menjadi diyat.

Referensi:

  1. Al-Qur’an
  2. Maqashid al-Syari’ah Wa ‘Alaqatuha Bi al Adillat al-Syar’iyyat, Muhammad Sa’ad bin Ahmad bin Mas’ud Al-Yubi, Saudi Arabia: Dar Ibnu Jauzi, hal:215-216.
  3. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Diyat. Diakses tanggal 10 Oktober 2022.

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *