Bag.5

Bismillahirrahmanirrahim…

Wasilah dari syari’at yang berikutnya dalam rangka menjaga prinsip hifdzu an-nafs adalah;

6. Menunda Pelaksanaan Hukum Pidana Mati.

Menunda pelaksanaan hukum pidana mati apabila menyebabkan hilangnya nyawa lain yang tidak berdosa. wanita yang telah menikah kemudian berzina maka dalam Islam dia mendapatkan hukuman mati dengan cara dirajam (manusia melemparinya dengan batu sampai dia mati), tetapi jika wanita tersebut dalam keadaan hamil maka dikhawatirkan akan berakibat kepada kematian bayinya, dan ini tentu saja bertentangan dengan prinsip maqoshid syari’ah hifdzu an-nafs, sehingga mengharuskan pelaksanaan hukuman rajam ditunda hingga dia melahirkan. Bahkan hukuman rajam juga ditunda jika setelah melahirkan ternyata tidak didapati orang yang bisa menyusui bayi tersebut.maka pelaksanaan hukuman rajam ditunda hingga sempurna masa penyusuan si bayi tersebut, yaitu 2 tahun.

Berkata Ibnul Mundzir seperti yang disebutkan dalam kitab Maqashid al-Syari’ah Wa ‘Alaqatuha Bi al Adillat al-Syar’iyyat:

(أَجمَعَ أَهلُ العِلمِ عَلَى أنَّ الحَامِل لَا تُرجَم حَتَّى تَضَع…)

Para ahli ilmu bersepakat bahwa wanita hamil tidak dirajam sampai dia melahirkan…..

Kasus penundaan hukuman rajam pernah terjadi di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dikisahkan dalam sebuah hadist

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي الْمُهَلِّبِ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ اعْتَرَفَتْ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالزِّنَا فَقَالَتْ إِنِّي حُبْلَى فَدَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِيَّهَا فَقَالَ أَحْسِنْ إِلَيْهَا فَإِذَا وَضَعَتْ حَمْلَهَا فَأَخْبِرْنِي فَفَعَلَ فَأَمَرَ بِهَا فَشُدَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا ثُمَّ أَمَرَ بِرَجْمِهَا فَرُجِمَتْ ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا فَقَالَ لَهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَجَمْتَهَا ثُمَّ تُصَلِّي عَلَيْهَا فَقَالَ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ شَيْئًا أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ali, telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Qilabah dari Abu Al Muhallib dari Imran bin Hushain bahwa ada seorang wanita dari Juhainah berada di sebelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengaku telah berzina seraya berkata; Sesungguhnya aku hamil. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil walinya seraya bersabda: “Berbuat baiklah kepadanya, jika ia telah melahirkan, kabarilah aku.” Wali itupun mengabari Rasulullah (bahwa anaknya telah melahirkan). Kemudian Rasulullah memanggilnya, dan menyuruhnya untuk mengencangkan pakaiannya, kemudian beliau memerintahkan untuk merajamnya, lalu ia pun dirajam, kemudian beliau menshalatinya. Umar bin Al Khaththab bertanya kepada beliau; Wahai Rasulullah, engkau telah merajamnya, namun engkau menshalatinya? Beliau menjawab: “Sungguh, ia telah bertaubat dengan suatu taubat yang sekiranya dibagikan di antara tujuh puluh penduduk Madinah, niscaya akan mencukupi mereka. Apakah engkau mendapati sesuatu yang lebih utama dari orang yang mempersembahkan dirinya untuk Allah?” Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih.

Melalui hadist diatas kita mengetahui bagaimana syari’at Islam sangat menjaga, dan menghargai jiwa manusia. Syari’at melarang keras adanya darah yang tumpah kecuali dengan cara yang haq, yang sesuai dengan syari’at Islam. Sehingga sekalipun hukuman had rajam atas wanita berzina yang sudah menikah harus dilaksanakan, tetapi Islam menundanya jika hal tersebut berakibat kepada hilangnya nyawa lain, yaitu bayi yang dikandungnya, sebagai salah satu dari penerapan prinsip maqashid syari’ah hifdzu an-nafs.

Wallahu a’lam bis shawab.

Referensi:

  1. 1 Maqashid al-Syari’ah Wa ‘Alaqatuha Bi al Adillat al-Syar’iyyat, Muhammad Sa’ad bin Ahmad bin Mas’ud Al-Yubi, Dar Ibnu Jauzi, Saudi Arabia, hal.219-220.
  2. Sunan at Tirmidzi, Muhammad bin Isa(Cet. II, Mesir: Babil Halbi, 1975M) no.1435.

Oleh: Nadia Al Hanifiyah.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *