Bag. 6

Bismillahirrahmanirrahim…

Wasilah selanjutnya yang disyari’atkan oleh agama Islam dalam rangka menerapkan prinsip maqashid syari’ah hifdzu an-nafs adalah:

7. Pemberian Maaf kepada Pelaku Pembunuhan

Di antara bentuk perhatian Islam kepada prinsip hifdzu an-nafs adalah memberi pilihan kepada umatnya dan juga memotivasi untuk memaafkan pelaku yang membunuh keluarganya.

Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya

فَمَنۡ عُفِيَ لَهُۥ مِنۡ أَخِيهِ شَيۡءٞ فَٱتِّبَاعُۢ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَأَدَآءٌ إِلَيۡهِ بِإِحۡسَٰن (البقرة:178)

Artinya: Tetapi barangsiapa memperoleh maaf dari saudaranya, hendaklah dia mengikutinya dengan baik, dan membayar diat (tebusan) kepadanya dengan baik

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata

(مَا رُفِعَ إلَى رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم أَمرٌ فِيه القِصَاص إلَّا أَمَرَ فِيه بِالعَفو)

Artinya: Tidak ada satupun (hukuman) qishash yang diangkat ke hadapan Nabi shallahu ‘alaihi wasallam kecuali ada perintah untuk memaafkannya.

Memaafkan seseorang yang telah menyakiti kita atau keluarga kita bukanlah tindakan yang mudah ditempuh, apalagi jika yang bersangkutan belum menyampaikan permintaan maaf dan menyesali perbuatannya. Tetapi Islam tetap memberi pilihan memaafkan bagi anggota keluarga korban dan menggantinya dengan mengambil diyat berupa 100 ekor unta dari si pelaku pembunuhan tersebut.

Mungkin sebagian orang berpikir bahwa memaafkan pelaku pembuhan akan menghilangkan hikmah syari’at qishash, yaitu menghukum pelaku kejahatan, memberi peringatan serta pelajaran bagi yang lain dan juga sebagai pelipur lara bagi keluarga korban. Akan tetapi sebenarnya memaafkan bukan berarti menghilangkan atau menggugurkan hikmah-hikmah qishash, karena kemungkinan pihak keluarga memaafkan pelaku pembunuhan adalah kecil, dan seseorang yang berakal tidak akan menggunakan kemungkinan kecil tersebut untuk selamat dari hukuman qishash.

Meskipun keluarga korban memaafkan pelaku sehingga pelaku terbebas dari hukum qishash, pelaku tetap memiliki kewajiban lain yang sangat berat sebagai pengganti dari hukuman qishash itu berupa membayar diyat seharga 100 ekor unta, hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ

(أَلَا إِنَّ قَتِيلَ الخَطَإ، قَتِيلَ السَّوطِ وَالعَصَا فِيه مِائَةٌ مِنَ الإِبِلِ)

Artinya: Ketahuilah, sesungguhnya dalam korban pembunuhan mirip sengaja, korban terbunuh oleh cambuk dan tongkat, diyatnya 100 onta.

Adanya anjuran memaafkan pelaku pembunuhan bukan berarti meniadakan hikmah-hikmah qishash, tetapi merupakan penerapan dari maqashid syari’ah hifdzu an-nafs, dengan dimaafkannya pelaku maka itu berarti memberi kesempatan kepadanya untuk bertaubat dan menyesali perbuatannya tetapi tanpa mengambil hak-hak dari keluarga korban.

Wallahu a’lam.

Referensi:

1.Al-Qur’an

2. Maqashid al-Syari’ah Wa ‘Alaqatuha Bi al Adillat al-Syar’iyyat, Muhammad Sa’ad bin Ahmad bin Mas’ud Al-Yubi, Dar Ibnu Jauzi, Saudi Arabia, hal.220-221.

3. Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah Muhammad bin Yazid Ibn Majah Al-Qozwini, no.2618.

4. Musnad Imam Ahmad, Ahmad bin Hanbal, Muassasah Risalah, 3/213, 252.

5 Konsepsi Pemberian Maaf bagi Pelaku Tindak Pidana Penggelapan Disebabkan Hubungan Keluarga dalam Hukum Pidana Islam dan Hukum Pidana di Indonesia, Farida Rakhmah A, Skripsi (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2017).


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *